-->

Salah satu sistem dalam menanam secara hidroponik yang paling banyak dipilih oleh para pemula yang masih belajar dan baru terjun ke dunia tanam menanam secara hidrponik adalah sistem wick.

 

Sistem wick dikenal juga sebagai sistem sumbu, adalah sistem menanam hidrponik yang menggunakan air tergenang pada suatu wadah dimana pada setiap pot tanamnya menggunakan sumbu dari kain flanel atau kain lainnya  yang mudah menyerap air, fungsi dari sumbu tersebut untuk menghantarkan air nutrisi ke akar tanaman.

 

Sistem wick merupakan sistem yang paling murah dan mudah untuk diimplementasikan, karena sistem ini bisa menggunakan peralatan bekas yang banyak tersedia di rumah seperti botol plastik bekas air mineral, dirigen bekas, sisa pipa vpc yang tidak terpakai, dan lain sebagainya yang penting wadah tersebut mampu menampung air dan disarankan bukan terbuat dari logam. 

kelebihan dan kekurangan hidrponik sistem wick
Konsep sistem wick hidrponik

Hidroponik sistem wick memang sangat cocok untuk pemula yang baru memulai ingin bertanam hidrponik, dengan modal yang cukup murah dari sistem inilah para pemula akan banyak belajar mengenai cara merawat tanaman hidroponik sehingga mereka seiring waktu akan mampu mengenali setiap kendala pada tanaman hidrponik terutama sistem wick. 

 

Mengenai sistem wick di artikel kali ini saya akan coba menguraikan kekurangan dan kelebihan dari sistem wick yang harus anda ketahui, sehingga dengan mengenali kelebihan dan kekurangannya anda setidaknya bisa mempertimbangkan untuk memilih sistem wick ini serta dapat mengantisifasi setiap permasalahan pada sistem wick ini.

 

Kelebihan dan Kekurangan sistem wick.

Sistem wick memang sangat sederhana dan sangat murah, jika dibandingkan dengan sistem lainnya seperti sistem DFT, NFT, sistem rakit apung, sistem wick ini terbilang sistem hidrponik yang paling murah, namun sistem wick ini cukup sulit dalam praktis.


1. Kelebihan sistem Wick

Untuk anda pemula anda bisa mulai mencoba bertanam hidrponik dengan sistem wick (sistem sumbu), kelebihan sistem wick adalah sebagai berikut:

 

a. Biaya murah

Sistem wick bisa menggunakan barang-barang bekas yang banyak ersedia di rumah, seperti wadah-wadah plastik, bekas botol air mineral, kotak styrofoam box makanan, kotak styrofoam bekas buah-buahan dan lain sebagainya, dengan menggunaan media tanam yang banyak tersedia di rumah, maka akan menghemat biaya.


b. Sistem wick tidak perlu menggunakan Pompa

Pada sistem wick sebenarnya tidak perlu menggunakan pompa baik pompa aerator namun pompa air, namun begitu jika memang memiliki modal lebih anda bisa menggunakan pompa udara atau pompa aerator untuk menyuplai oksigen ke air sistem wick yang umumnya tergenang alias tidak mengalir. Dengan tambahan pompa erator setidaknya anda tidak perlu repot mengobok-obok air nutrisi secara manual.


2.  Kekurangan sistem Wick

Selain memiliki kelebihan sistem wick hidroponik juga memiliki beberapa kelemahan yang harus anda waspadai, kelamahan dari sistem wick adalah sebagai berikut:

 

a.  Perawatan yang cukup sulit.

Sistem wick merupakan salah satu sistem hidrponik yang kurang praktis menurut saya, kita akan cukup dibuat repot pada saat pemeliharaan apalagi jumlah tanaman dan media tanamnya banyak, seperti ketika mengganti air nutrisi apabila air nutrisi pada wadah sistem wick habis, atau ketika ingin menaikan nilai PPM air nutrisi. 

 

Jika wadah lebih dari satu maka kita akan cukup di buat repot pada saat pemberian air nutrisi baik pada saat obok-obok air nutrisi untuk oksigen, ingin meningkatkan PPM air nutrisi atau pada saat ingin menambah air nutrisi karena habis terutama pada saat menjelang panen air akan cepat habis dan kita harus sering cek dan menambahkan air nutrisi ketika air surut diserap oleh tanaman.

 

b. Pertumbuhan tanaman kurang maksimal

Tanaman hidroponik sangat ditentukan oleh kadar oksigen dalam air nutrisi, nilai PPM air nutrisi dan suhu air nutrisi, jika satu diantaranya kurang maka pertumbuhan tanaman hidrponik dapat dipastikan akan terganggu dan kurang maksimal, bahkan bisa jadi mati.

 

Pada sistem wick dengan air tergenang tanpa aerator jika kita kurang telaten dalam pemeliharaan, maka bisa jadi air nutrisi akan kurang oksigen, atau suhu air naik yang mengakibatkan mengganggu pertumbuhan tanaman menjadi lebih lambat.

 

c. Mudah terkena busuk akar

Karena menggunakan air tergenang, apabila suhu naik dan air kekurangan oksigen, maka jika dibiarkan terus demikian akan berpengaruh pada PH air nutrisi yang meningkat dan jika terus dibiarkan bisa mengakibatkan busuk akar karena pertumbhan jamur pda akar tanaman, sehingga tanaman bisa layu dan mati.


SOLUSI

Kekurangan di atas sebenarnya bisa dihindari jika kita telaten memelihara tanaman hidrponik kita yang menggunakan sistem wick. sebagai berikut:

 

  • Menjaga agar air terus mendapatkan suplai oksigen, bisa dilakukan manual dengan cara di obok-obok airnya diobok-obok setiap hari minimal satu kali, atau menambahkan pompa aerator.
  • Menghindari panas berlebih pada air dan udara di sektar wadah media tanam, kita bisa menjemurnya di bawah plastik UV (Grand house), atau memberikan warna terang pada tutup atau wadah media tanam yang digunakan.
  • Memastikan tanaman mendapatkan nilai PPM yang cocok, agar lebih mudah kita bisa menggunakan TDS Meter.
  • Pemeliharaan lebih telaten

 

Dengan upaya di atas, kemungkinan besar tanaman hidrponik kita yang menggunakan sistem wick, baik dari botol bekas, box styrofoam nasi, atau box styrofoam bekas buah-buahan dan media lainnya bisa tumbuh berkembang dengan baik dan bisa panen secara maksimal.

Di indonesia sendiri bertanam dengan sistem hidroponik saat ini sudah mulai banyak dilirik oleh berbagai kalangan, tidak perlu punya basic ilmu tani yang ahli, tidak juga perlu punya lahan pertanian yang luas, siapapun bisa menjadi petani hidroponik cukup hanya dengan mengandalkan pekarangan rumah, teras loteng, pagar rumah, belakang rumah yang area lainnya yang mendapatkan sinar matahari yang cukup.

Hidroponik banyak dipilih karena sistem pertanian ini terbilang sangat praktis jika dibandingkan dengan sistem pertanian konvensional, berikut beberapa kelebihan menanam dengan sistem hidrponik dibandingkan dengan sistem konvensional (pertanian biasa):

1. di sistem hidroponik, kita tidak perlu lagi memikirkan jadwal menyiram tanaman karena hidrponik di tanam menggunakan media air.

2. Kita juga tidak perlu mengolah tanah yang bisa mengakibatkan kotor karena ditanaman menggunakan air.

3. Dalam sistem hidrponik kita tidak perlu memikirkan cara membersihkan gulma atau rumput hama disekitar tanaman hidrponik, karena dalam sistem hidrponik sangat kecil peluang rumput tumbuh di sekitar tanaman hidrponik, bahkan peluangnya 0%,

4. Dalam hidrponik kita tidak perlu memikirkan hama tanaman, jika sistem hidrponik dibuat dengan baik sangat kecil pelunag hama tanaman menyerang tanaman. sehingga tanaman hidrponik akan lebih sehat dan terhindar dari semprotan pestisida.

5. Pertumbuhannya lebih cepat
Pertumbuhan tanaman hidrponik jika dikelola dengan benar, pertumbuhannya terbilang lebih cepat, lebih lebat dan lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan sistem pertanian konvensional.

6. Perawatan lebih mudah.
Perawatan sistem pertanian hidrponik lebih mudah, kita hanya perlu memperhatikan air nutrisi jangan sampai habis, memperhatikan nilai PPM & PH air nutrisi cukup dilakukan seminggu sekali.


Walaupun memiliki banyak kelebihan dan ke praktisan, ternyata ada banyak sekali masalah dalam sistem hidrponik yang bisa dialami oleh anda terutama para petani hidroponik pemula.

Permasalahan -permasalahan dalam bertani dengan sistem hidroponik harus dikenali dengan baik oleh setiap petani hidrponik, terutama petani hidrponik pemula, agar bisa diantisifasi sehingga jika kita mengalami permasalahan serupa bisa tahu solusi untuk mengatasinya, sehingga kita bisa menjadi petani yang sukses dunia akhirat...hehe.

Masalah dalam hidroponik

Ada banyak sekali masalah yang bisa muncul ketika anda bertanam dengan sistem hidrponik, masalah ini bisa saja anda alami baik anda petani hidrponik pemula bahkan hidrponik yang sudah berpengalaman sekalipun. berikut adalah beberapa masalah yang sering sekali dialami oleh para petani hidrponik.

Berikut beberapa masalah dalam sistem hidrponik:

#1: Kulitang/Etiolosi

Kutilang (Kurus tinggi langsing) atau bahasa kerennya (bahasa ilmiahnya) adalah etiolosi, merupakan kondisi yang sering terjadi pada semaian benih tanaman sayuran dimana postur tubuh tanaman kurus, tinggi dan langsing serta berwarna pucat seperti gambar di bawah ini:

benih tanaman kutilang
Contoh tanaman kutilang
Kutilang sering dialami oleh para petani hidroponik terutama pada pertumbuhan benih yang disemai, untuk mengenali kutilang berikut ciri-ciri yang dapat anda amati:
  • Batang tanaman terlihat lebih panjang akibat tingginya kandungan air akan tetapi batang terlihat tidak kokoh (kurus)
  • Tanaman terlihat lemah dan pucat
  • Memiliki daun yang kecil-kecil , tipis, dan berwarna pucat. Kondisi ini dikarenakan kandungan klorofil yang sedikit
  • Memiliki akar yang kurang lebat

Kutilang bisa terjadi karena tanaman/benih kurang atau minim sekali mendapatkan sinar matahari yang cukup, misal diletakan ditempat gelap dalam waktu yang lama, sehingga hormon auksin pada tanaman bekerja lebih  aktif yang menyebabkan pertumbuhan tanaman lebih cepat.

Cara agar benih tidak Kutilang 
Ketika anda menyemai benih anda bisa saja meletakan benih ditempat gelap untuk memancing hormon auksin aktif agar pertumbuhan lebih cepat, namun jangan terlalu lama, jika biji sudah pecah atau sprout benih harus cepat mendapatkan sinar matahari yang cukup. dijamin tidak kutilang.

#2: Busuk Akar

Permasalahan ke dua yang sering dialami oleh para petani hidrponik adalah busuk akar, busuk akar adalah kondisi dimana akar tanaman hidrponik membusuk yang sisebabkan oleh patogen jamur yang menyerang akar.

Busuk akar banyak dialami pada sistem hidrponik yang menggunakan sistem dengan air tergenang/ air yang tidak dialirkan seperti sistem rakit apung, sistem wick atau sistem kratky, jika daun menguning dan layu maka anda harus periksa kondisi akar tanaman, jika kondisi akar terlihat seperti gambar di bawah ini, itu sudah dipastikan tanaman anda terkena busuk akar.

contoh tanaman hidrponik terkena busuk akar


Tanaman pada sistem hidrponik tersebut memiliki potensi untuk terserang busuk akar apabila suplai oksigen pada air nutrisi kurang, kurangnya ventilasi udara dan media instalasi mudah menyerap panas karena penggunaan warna yang dominan gelap, sehingga suhu air nutrisi mudah naik.

Cara menghindari busuk akar
Untuk menghindari busuk akar jalan satu-satunya adalah memastikan agar air nutrisi suhunya tetap dingin juga pastikan air nutrisi mendapatkan banyak suplai oksigen, untuk menghindari busuk akar beberapa hal berikut bisa anda lakukan:

1. Mencat media instalasi dengan warna yang lebih terang atau melapisi media instalasi tanaman hidrponik dengan alumunium voil agar cahaya matahari mudah dipantulkan dan tidak menyerap panas, sehingga suhu air nutrisi tetap terjaga dingin.

2. Menambah aerator atau selang oksigen pada air nutrisi.
Anda bisa menggunakan aerator atau menambah selang oksigen pada pompa, beberapa pompa ada yang dilengkapi dengan selang oksigen, silahkan gunakan dan manfaatkan agar air nutrisi mendapatkan suplai oksigen yang cukup untuk tanaman.

3. Memilih air baku yang bersih dan berkualitas.
Patogen jamur bisa bersumber dari air baku yang digunakan untuk air nutrisi, ketika lingkungan mendukung, suhu air panas dan oksigen kurang patogen jamur akan mudah sekali tumbuh yang bisa menyerang akar hingga terjadi pembusukan, oleh karena itu pastikan anda menggunakan air baku yang sudah dapat dipastikan kebersihannya, ppmnya rendah, memiliki PH yang rendah juga bersih.

#3: Daun Menguning


contoh daun tanaman hidrponik menguning
Ada banyak penyebab kenapa daun hidrponik bisa menguning, bisa karena kekurangan nutrisi, bisa karena kelebihan nutrisi, bisa karena busuk akar, karena suhu disekitar akar panas dan lain sebagainya, jika daun kuning anda harus mengenali gejalanya terlebih dahulu baru setelah diketahui penyebabnya anda bisa mengatasinya.

Mengenai kuning pada dun hidrponik, anda bisa baca artikel berikut:
Penyebab daun menguning pada tanaman hidrponik dan cara mengatasinya.

#4: Daun Menggulung

Permasalahan daun kecil dan menggulung juga sering dialami oleh para petani hidrponik terutama pada tanaman sayuran daun seperti kangkung, pakcoy dan jenis sawi-sawian.

Penyebab daun menggulung dan kecil biasanya karena kelebihan nutrisi, saya sendiripun pernah mengalaminya pada tanaman hidrponik pakcoy yang saya tanam menggunakan sistem DFT, daun memang terlihat hijau, namun pertumbuhan daun tidak maksimal, daun tumbuh menggulung di ujung sisi-sisinya dan dau sulit sekali besar.

Contoh daun hidrponik hijau tapi mengulung

Solusinya jika daun berwarna hijau pekat namun menggulung kecil, maka coba untuk mengurangi nutrisi sedikit-sedikit lalu amati, berdasarkan pengalaman saya, umumnya menggulung pada daun seiring pengurangan nilai PPM pada nutrisi akan kembali normal.

#5: Pertumbuhan Tanaman kurus dan kerdil.

Permasalahan kelima yang sering dialami oleh para petani hidrponik terutama para petanik hidrponik pemula yang belum berpengalaman adalah pertumbuhan tanaman kurus dan kerdil.

Penyebab kenapa tanaman sulit berkembang dan pertumbuhannya kurus dan kerdil, walaupun kebutuhan nutrisi sudah sesuai anjuran biasanya disebabkan oleh kekurangan oksigen pada air nutrisi, dan air baku memiliki PPM yang tinggi.

Saya pribadipun pernah mengalaminya ketika menggunakan sistem wick dengan botol bekas, dan ketika dibandingkan dengan sistem DFT pertumbuhannya jauh sekali, DFT lebih besar sementara yang menggunakan sistem wick sepertinya tanaman sulit sekali berkembang, bahkan ketika menjelang panen pun pertumbuhannya kecil dan kerdil.

Solusi agar tanaman hidrponik tidak kurus dan kerdil:

a. Pastikan air nutrisi mendapatkan suplai oksigen yang cukup, silahkan tambahkan aerator atau pompa udara, atau jika menggunakan sistem wick, seringlah untuk mengobok-obok air nurtisi di setiap pagi, siang dan sore hari agar air nutrisi mendapatkan oksigen yang cukup yang bermanfaat untuk akar.

b. Pastikan menggunakan air baku dengan nilai PPM yang kecil, setidaknya di bawah 100 PPM lebih kecil akan lebih baik.

c. Pastikan Sirkulasi air pada talang instalasi hidrponik cukup kencang dan tersirkulasi dengan baik.

d.Pastikan Suhu air nutrisi tetap terjaga, suhunya tidak naik, dengan cara memilih warna terang dan jika cukup modal bisa menggunakan pelapis alumunium voil.

e. Pastikan PPM terpenuhi dengan baik,
Ini yang tidak kalah pentingnya, pemberian nutrisi harus sesuai dengan anjuran umumnya setiap tanaman memiliki konsumsi nutrisi seiring usia.

Satu keunikan yang sering terjadi pada tanaman hidroponik, terutama tanaman hidroponik sayuran daun seperti pakcoy, kangkung, bayam dan jenis sawi-sawian adalah daun layu.

Daun menjadi layu pada saat siang hari ketika terik sinar matahari baik pada kondisi tanaman masih kecil maupun sudah besar, namun tanaman akan kembali segar pada saat tidak ada matahari seperti pagi dan sore hari.

Ini sering saya alami dulu ketika pertama kali mulai bertanam secara hidroponik menggunakan sistem wick mengunakan botol bekas air mineral, awalnya sempat kaget juga, kenapa kok tiba-tiba layu, padahal akar tanaman sudah tumbuh cukup banyak dan air nutrisi masih cukup banyak juga.

Dan setelah diamati layunya daun tanaman hidroponik tersebut terjadi setiap hari pada saat matahari sedang panas-panasnya, namun ketika sore hari tanaman kelihatannya segar kembali.

penyebab daun tanaman hidrponik layu di siang hari


Layunya tanaman sebenarnya bukan masalah serius, namun tetap harus diwaspadai, karena jika dibiarkan terus menerus akan membuat tanaman sulit berkembang bahkan bisa-bisa terkena busuk akar yang membuat tanaman hidroponik kita layu dan pada akhirnya mati.

Penyebab daun tanaman hidroponik layu di siang hari

Sempat bingung awalnya, namun setelah mencari tahu di group-group hidroponik di facebook dan juga artikel tentang hidroponik, daun layu pada tanaman hidroponik merupakan masalah yang sering sekali dialami oleh petani hiroponik.

Dan ternyata ada beberapa penyebab kenapa tanaman hidroponik daunnya layu di siang hari, namun pada saat pagi hari dan sore hari ketika matahari sudah tidak terlalu terang, tanaman mulai segar kembali.

Penyebab tanaman hidrponik daunnya layu umumnya disebabkan karena

suhu air nutrisi tempat tanaman tumbuh temperaturnya tinggi.

Berikut penyebab kenapa suhu air nutirisi hidroponik temperaturnya tinggi yang membuat daun tanaman hidrponik layu pada siang hari:

1. Kurang sirkulasi udara pada wadah nutrisi.

Penyebab daun tanaman hidroponik layu bisa dikarenakan karena suhu air tinggi, ini sering terjadi pada sistem hidroponik yang menggunakan air tergenang dan tidak mengalir seperti sistem wick, sistem kratky atau sistem rakit apung, pada sistem tersebut suhu air nutrisi menjadi naik bisa disebabkan karena kurangnya sirkulasi pada wadah tanam.

2. Air nutrisi kekurangan suplai oksigen.

Penyebab kedua yang menyebabkan tanaman layu dikarenakan air nutrisi kekurangan oksigen, untuk mengatasinya upayakan agar air nutrisi mendapatkan asupan oksigen yang cukup, jika menggunakan sistem wick, seringlah mengobok obok wadah air nutirisi, atau anda juga bisa memasang aerator/pompa udara, jika menggunakan sistem apung, pastikan pompa dilengkapi selang oksigen, jika luas bak nutrisi rakit apung luas, pertimbangkan untuk menggunakan 2 pompa atau lebih, memasang aerator akan lebih baik agar air nutrisi kaya akan oksigen yang bagus untuk akar tanaman.

3. Suhu terlalu tinggi

Penyebab yang ketiga kenapa daun tanaman hidroponik layu, bisa jadi karena suhu disekitar daerah anda terlalu tinggi, jika ini anda alami, pertimbangkan untuk memasang green house yang beratapkan plastik UV atau paranet sehingga tanaman tidak langsung terkena terik sinar matahari.
 

4. Kecepatan sirkulasi air kurang kencang.

Penyebab ke 4 khusus untuk anda yang menanam hidroponik yang menggunakan sistem NFT atau DFT namun daun tanaman layu kemungkinan suhu sekitar sangat tinggi, sementara aliran sirkulasi air kurang kencang, sehingga air nutrisi suhunya mudah naik yang mengakibatkan daun tanaman hidroponik menjadi layu.

5. Talang instalasi menggunakan warna gelap yang menyerap panas.

Penyebab yang kelima kemungkinan besar karena anda menggunakan media talang instalasi dari warna yang gelap, seperti menggunakan PVC hitam dan bahan-bahan lainnya yang warnanya dominan gelap.

Warna gelap sangat baik menyerap panas sehingga ini bisa menyebabkan air nutrisi temperaturnya cepat naik.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pastikan pipa yang digunakan berwarna terang, jika sudah terlanjur menggunakan warna hitam anda bisa melapisinya dengan alumunium voil atau mencatnya dengan warna terang seperti putih.

Warna terang terbukti sangat berpengaruh sekali pada pertumbuhan tanaman hidroponik, karena suhu air nutirisi yang digunakan untuk media tanam harus terjaga suhunya jangan sampai naik, jika suhu naik ditambah dengan suplai oksigen kurang akan mudah sekali memancing pertumbuhan jamur pada akar tanaman yang bisa menyebabkan tanaman menjadi layu dan akhirnya mati.



Tanaman hidroponik kini menjadi salah satu pilihan, selain mudah dalam pemeliharaan, tanaman hidrponik tidak tergantung pada lahan tanah pertanian, kita bisa menanam hidrponik di pekarangan, rumah di balakang rumah yang penting terkena sinar matahari.

Menanan secara hidrponik memang mudah-mudah gampang, jika kita sudah tahu cara dan juga triknya, maka kemungkinan besar kita akan berhasil hingga panen melimpah, namun jika belum tahu triknya tidak jarang justru menemui kegagalan.

Ada banyak permasalahan yang sering dialami oleh para petani hidrponik ketika mereka menanam tanaman secara hidrponik, yang paling sering dialami terutama oleh para petani hidrponik pemula adalah permasalahan pada daun tanaman, terutama tanaman sayur-sayuran yang ditanam secara hidrponik, seperti pakcoy, kangkung, sawi-sawian dan lain sebagainya.

Permasalahan yang sering dialami pada jenis tanaman sayur yang ditanam secara hidrponik adalah daun menguning, daun menggulung atau daun keriting, dimana permasalahan tersebut sering mempengaruhi pertumbuhan tanaman hingga tanaman kurang maksimal pertumbuhannya.

Penyebab daun tanaman hidrponik menguning.

Ketika kita menanam dengan sistem hidroponik, terutama menanam tanaman sayuran daun, seperti pakcoy, kangkung, sawi, bayam dan tanaman serupa lainnya, yang mungkin bisa dialami oleh petani hidroponik pemula adalah daun kuning.

Jika daun tanaman hidroponik menguning itu artinya tanaman hidroponik anda sedang bermasalah, oleh sebab itu kita harus mencari tahu apa penyebabnya sehingga kita tahu solusinya.

Berikut beberapa penyebab kanapa daun hidroponik menguning:

1. Kurang nutrisi & PPM air baku terlalu tinggi.

Kekurangan nutrisi dan penggunaan PPM air baku terlalu tinggi bisa menyebabkan daun menguning, ciri daun kuning karena kekurangan nutrisi biasanya urat daun berwarna hijau namun disekitar urat daun berwarna kuning seperti terlihat pada gambar di bawah ini:
Jika tanaman daun hidroponik anda menguning terlihat seperti gambar di atas, kemugkinan besar tanaman hidroponik anda kekurangan nutrisi atau air baku yang digunakan PPM nya terlalu tinggi.

Solusinya, tambahkan PPM nutrisi secara bertahap dan lihat perkembangannya 3 hari ke depan,  pastikan anda menggunakan air baku dengan nilai PPM di bawah 100 atau 20 lebih bagus. Umumnya apa yang pernah saya alami pemberian ppm dan penggantian air baku dengan air baku ber PPM rendah akan membuat daun akan terus menghijau seiring waktu.

2. Air kurang oksigen dan suhu terlalu tinggi

Yang kedua yang bisa menyebabkan daun menguning, karena tingginya suhu udara di sekitar akar, dan juga akar kekurangan oksigen.

Ciri tanaman kuning, karena air nutrisi kekurangan oksigen terlihat seperti gambar di bawah ini:


Ini sering dialami oleh petani hidroponik yang menggunakan sistem hidroponik dengan air tergenang seperti sistem wick atau sistem rakit apung.

Solusinya jika kondisi daun menguning seperti gambar di atas, sebaiknya tambahkan kebutuhan oksigen untuk air nutrisi misal memasang aerator/pompa udara, kemudian pastikan permukaan media tanam berwarna terang yang dapat memantulkan cahaya, seperti menggunakan alumunium foil dan warna serupa lainnya.

Jika dibiarkan air nutrisi kekurangan oksigen dan suhu disekitar akar tinggi, biasanya akan busuk akar dan pada akhirnya tanaman akan mati.

3. Karena Busuk Akar

Penyebab menguningnya daun hidroponik salah satunya karena busuk akar. busuk akar terjadi karena akar terkena jamur disebabkan oleh kurangnya kadar oksigen dalam air nutirisi dan juga suhu atau temperatur air nutrisi tinggi.

Jika daun tanaman hidroponik anda terlihat menguning, maka sebaiknya anda periksa kondisi akar tanaman tersebut, kondisi akar tanaman yang terserang busuk akar terlihat coklat dan berlendir, akan terlihat seperti gambar di bawah ini:



Busuk akar sulit untuk diatasi, umumnya jika akar sudah terkena jamur dan membusuk tanaman akan menguning, layu dan akhirnya mati, jika terjadi busuk akar sebaiknya buang tanaman yang sudah terkena busuk akar, sebelum menjalar ke tanaman lainnya, jika sudah parah lebih baik buang  semua tanaman, kuras bak penampung dan juga pipa serta tandon nutiri, lalu mulai lagi dari awal.

 4. ph air nutrisi terlalu tinggi

Terus terang saya pribadi selama mengenal cara bertanam hidroponik tidak pernah otak-atik PH, saya hanya fokus di nutrisi, suplai oksigen di air nutiri dan sirkulasi air nutirisi, ya mungkin di daerah saya suhunya dingin jadi cocok untuk berhidroponik.

PH normal umumnya 6.5 - 7, namun PH bisa naik dan turum, PH bisa naik karena suhu temperatur air nutiri naik, atau ada penyebab lainnya yang saya pun kurang tahu penyebab pastinya.

Namun PH tinggi dapat menyebabkan daun tanaman hidroponik juga ikut menguning, jika daun menguning karena ketinggian PH solusinya kadang para petani hidroponik menggunakan PH down dan bahan kimia lainnya.


Ketika daun tanaman hidroponik anda menguning, maka langkah pertama yang harus anda lakukan adalah mencari tahu kenapa daun bisa menguning, setelah dikethui penyebabnya segerlah untuk mengatasinya, daun menguning masih bisa di atasi selama belum tarjadi busuk akar, jika sudah terjadi pembusukan akar karena akar terkena jamur, sebaiknya buang, bersihkan semua talang instalasi dan mulai lagi dari awal.

Semoga artikel di atas membantu anda terutama anda yang kebetulan sedang mengalami permasalahan pada daun tanaman hidroponik anda yang menguning.

Kita kenal ada banyak sekali komponen yang bisa kita pilih untuk mendukung tampilan aplikasi android, salah satunya adalah list view, list view pada umumnya digunakan untuk mengelola data yang ingin ditampilkan dengan tampilan berjajar secara vertical.

List view banyak dipilih karena kita bisa menampilkan banyak data tanpa harus menulis code dalam jumlah yang banyak, selain itu tampilan setiap item list view bisa kita custom disesuaikan dengan keinginan, kita bisa menampilkan list view dalam bentuk teks, gambar icon ataupun kombinasi gambar dan juga teks.

Keuntungan menggunakan List view selain dapat mempermudah penulisan program, list view juga secara otomatis sudah dilengkapi dengan scroll view, artinya apabila data yang ingin ditampilkan jumlahnya cukup banyak dan sudah melebihi tampilan layar, maka otomatis akan muncul scroll yang dapat di geser secara vertical ke atas dan juga ke bawah.

Di artikel kali ini saya akan coba menyajikan sebuah program untuk membuat list view, baik dalam bentuk tampilan tulisan atau teks saja mapun dalam bentuk tampilan gambar dan juga teks.



Langkah-langkah membuat listview dengan icon dan teks di android studio

Berikut langkah-langkah membuat list view dalam bentuk gambar icon dan teks di andorid studio:

Langkah 1:
Pada android studio, pilih menu file > new Project, pilih empty activity lalu klik next


Langkah 2:
Selanjutnya silahkan tentukan nama projek android anda dan juga nama packagenya.
misal disini untuk projeknya saya kasih Name: ListView Example dan package namenya com.example.listview, anda bisa sesuaikan dengan keinginan.


Selanjutnya tekan tombol Finish jika sudah.

Langkah 3:
Pada project android studio anda, di projec explorer sebelah kiri, tampilkan file  res>layout >activity_main.xml, kemudian tulis atau masukan kode seperti di bawah ini:

File: activity_main.xml
<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<androidx.constraintlayout.widget.ConstraintLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"
    xmlns:app="http://schemas.android.com/apk/res-auto"
    xmlns:tools="http://schemas.android.com/tools"
    android:layout_width="match_parent"
    android:layout_height="match_parent"
    tools:context=".MainActivity">

    <ListView
        android:id="@+id/list_view"
        android:layout_width="match_parent"
        android:layout_height="match_parent"
        app:layout_constraintTop_toTopOf="parent"
        app:layout_constraintLeft_toLeftOf="parent"
        app:layout_constraintBottom_toBottomOf="parent"
        app:layout_constraintRight_toRightOf="parent"
        android:dividerHeight="0dp" />

</androidx.constraintlayout.widget.ConstraintLayout>

Pada kode di atas kita menggunakan constraint layout, dimana list view kita buat full screeen dengan cara memberikan nilai pada constraint batas atas,kiri, kanan dan bawahnya dengan parent agar menyesuaikan dengan lebar layar.
...
...
app:layout_constraintTop_toTopOf="parent"
app:layout_constraintLeft_toLeftOf="parent"
app:layout_constraintBottom_toBottomOf="parent"
app:layout_constraintRight_toRightOf="parent"
...
...

 Langkah 4:
Buat file list_item.xml di folder res>layout>list_item.xml

Ini untuk desain setiap item dalam list, kurang lebih designnya akan seperti gambar ini:


Sebelah kiri foto, di kanan terdiri dari tulisan nama, alamat dan pekerjaan.

Silahkan masukan atau copy kode di bawah ini

File: list_item.xml
<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<androidx.constraintlayout.widget.ConstraintLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"
    android:layout_width="match_parent"
    android:layout_height="wrap_content"
    android:padding="10dp"
    xmlns:app="http://schemas.android.com/apk/res-auto">

    <ImageView
        android:id="@+id/photo"
        android:layout_width="100dp"
        android:layout_height="100dp"
        app:layout_constraintLeft_toLeftOf="parent"
        app:layout_constraintTop_toTopOf="parent"
        app:layout_constraintBottom_toBottomOf="parent"/>

    <TextView
        android:id="@+id/name"
        android:layout_width="0dp"
        android:layout_height="wrap_content"
        app:layout_constraintLeft_toRightOf="@id/photo"
        app:layout_constraintTop_toTopOf="parent"
        android:padding="5dp"
        android:textStyle="bold"
        app:layout_constraintBottom_toTopOf="@id/address"
        app:layout_constraintRight_toRightOf="parent"
        app:layout_constraintVertical_chainStyle="packed"/>

    <TextView
        android:id="@+id/address"
        android:layout_width="0dp"
        android:layout_height="wrap_content"
        android:padding="5dp"
        app:layout_constraintLeft_toRightOf="@id/photo"
        app:layout_constraintTop_toBottomOf="@id/name"
        app:layout_constraintBottom_toTopOf="@+id/job"
        app:layout_constraintRight_toRightOf="parent"/>

    <TextView
        android:id="@+id/job"
        android:layout_width="0dp"
        android:padding="5dp"
        android:layout_height="wrap_content"
        app:layout_constraintLeft_toRightOf="@id/photo"
        app:layout_constraintTop_toBottomOf="@id/address"
        app:layout_constraintBottom_toBottomOf="parent"
        app:layout_constraintRight_toRightOf="parent"/>

</androidx.constraintlayout.widget.ConstraintLayout>

Langkah 5:
Buat file pada projek android anda Person.java, untuk mengelola data list item

 File: Person.java
package app.example.listview;

public class Person {
    private int photoId;
    private String name;
    private String address;
    private String job;

    public Person(int photoId, String name, String address, String job) {
        this.photoId = photoId;
        this.name = name;
        this.address = address;
        this.job = job;
    }

    public int getPhotoId() {
        return photoId;
    }

    public void setPhotoId(int photoId) {
        this.photoId = photoId;
    }

    public String getName() {
        return name;
    }

    public void setName(String name) {
        this.name = name;
    }

    public String getAddress() {
        return address;
    }

    public void setAddress(String address) {
        this.address = address;
    }

    public String getJob() {
        return job;
    }

    public void setJob(String job) {
        this.job = job;
    }
}

Langkah 6:
Buat file baru dengan nama ListAdapter.java pada projek android anda
List adapter digunakan untuk menampilkan dan memanipulasi item-item yang terdapat pada item_list.xml yang nanti akan di set pada list.

File: ListAdapter.java
package app.example.listview;

import android.app.Activity;
import android.content.Context;
import android.view.LayoutInflater;
import android.view.View;
import android.view.ViewGroup;
import android.widget.BaseAdapter;
import android.widget.ImageView;
import android.widget.TextView;

import java.util.List;

public class ListAdapter extends BaseAdapter {
    private Context context;
    private List<Person> persons;

    private static class ViewHolder {
        ImageView photo;
        TextView name;
        TextView address;
        TextView job;
    }

    public ListAdapter(Activity activity, List<Person> persons) {
        this.context = activity.getBaseContext();
        this.persons = persons;
    }

    @Override
    public int getCount() {
        return persons.size();
    }

    @Override
    public Object getItem(int id) {
        return persons.get(id);
    }

    @Override
    public long getItemId(int id) {
        return id;
    }

    @Override
    public View getView(int pos, View v, ViewGroup vGroup) {
        // TODO Auto-generated method stub

        ViewHolder holder;
        LayoutInflater inflater = (LayoutInflater) context.getSystemService(Context.LAYOUT_INFLATER_SERVICE);
        if (v == null) {
            holder = new ViewHolder();

            v = inflater.inflate(R.layout.list_item, vGroup, false);

            holder.photo = v.findViewById(R.id.photo);
            holder.name = v.findViewById(R.id.name);
            holder.address = v.findViewById(R.id.address);
            holder.job = v.findViewById(R.id.job);

            v.setTag(holder);
        } else {
            holder = (ViewHolder) v.getTag();

        }

        Person p = persons.get(pos);

        holder.photo.setImageResource(p.getPhotoId());
        holder.name.setText(p.getName());
        holder.address.setText(p.getAddress());
        holder.job.setText(p.getJob());


        return v;
    }
}

Langkah 7:
Modifikasi isi MainActivity.java sehingga seperti code di bawah ini:

File: MainActivity.java
 package app.example.listview;

import android.os.Bundle;
import android.widget.ListView;

import androidx.appcompat.app.AppCompatActivity;

import java.util.ArrayList;
import java.util.List;

public class MainActivity extends AppCompatActivity {

    @Override
    protected void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
        super.onCreate(savedInstanceState);
        setContentView(R.layout.activity_main);

        //ambil list view dari activity_main.xml
        ListView list=findViewById(R.id.list_view);

        //efinisikan list adapter yang kita buat
        ListAdapter adapter=new ListAdapter(this,createPersons());

        //set adapter pada list view.
        list.setAdapter(adapter);
    }

    /*
     * Untuk menambahkan data pada list
     * silahkan tambahkan datanya di bawah ini
     * contoh: misal kita tambahkan 4 saja dulu.
     */
    private List<Person> createPersons(){
        List<Person>data=new ArrayList<>();
        data.add(new Person(R.drawable.photo_1,"Didin Ajidin","Garut","Guru Honorer"));
        data.add(new Person(R.drawable.photo_2,"Aqila Nurhikmah","Bogor","Guru PAUD"));
        data.add(new Person(R.drawable.photo_3,"Nadiya Nurjamilah","Bandung","Dokter spesialis penyakit dalam"));
        data.add(new Person(R.drawable.photo_4,"Najma Saniya Rizqia","Jakarta","Pengusaha"));

        return data;
    }
}

Langkah 7:
Download gambar berikut, kemudian tempatkan pada folder drawable di projek android studio anda.
photo_1.jpg

photo_2.jpg

photo_3.jpg

photo_4.jpg

Setelah semuanya selesai, struktur projek android studio anda akan tampil seperti gambar di bawah ini:

Langkah 8:
Jalankan projek android anda:
Jika berhasil, Tampilannya akan muncul kurang lebih seperti gambar di bawah ini:



 Demikian tentang cara Membuat Custom list view dengan gambar icon dan teks di android studio.

Jika ada pertanyaan terkait projek di atas silahkan berkomentar, Happy Coding.