dalam dunia hidroponik PPM adalah ukuran jat terlarut (pupuk) pada sejumlah liter air. nilai PPM dari larutan nutrisi wajib diukur dan ditentukan agar tanaman hidroponik cukup mendapatkan nutrisi terbaik, tidak terlalu banyak juga tidak terlalu sedikit.

 

Perlu diketahui bahwa, setiap jenis tanaman yang ditanam secara hidroponik, membutuhkan pupuk yang dilarutkan dalam sejumlah liter air dengan nilai PPM yang berbeda, jika tanaman yang ditanam secara hidroponik mendapatkan asupan nutrisi dengan nilai PPM yang mencukupi maka tanaman hidroponik akan tumbuh dan berkembang dengan baik serta akan memiliki kualitas yang baik pula.

 

Untuk menentukan nilai PPM air nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman hidrponik, setidaknya kita bisa mencari referensi dari para petani hidroponik yang berpengalaman. saat ini ada banyak sekali table nilai PPM untuk berbagai jenis tanaman yang tersedia yang bisa kita download dan gunakan sesuai dengan jenis tanaman yang ingin ditanam secara hidrponik.

 

Di artikel kali ini saya akan fokus membahas nilai PPM untuk kangkung dan pakcoy hidroponik,  ini berdasarkan pengalaman saya saat bertanam hidroponik agar tanaman anda dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. 


 PPM Kangkung dan Pakcoy hidroponik yang berhasil saya coba.

Oh Ya sebelumnya saya merupakan petani hidroponik dan sering sekali menanam kangkung, pakcoy dan jenis sawi-sawian, tentunya apa yang saya share pada artikel kali ini bersumber dari pengalaman pribadi pada saat menanam hidroponik kangkung dan pakcoy.

 

Nilai PPM yang cocok untuk kangkung hidroponik.

Kangkung adalah sayuran daun yang merupakan sayuran sejuta umat, karena banyaknya penggemar kangkung, kangkung layak untuk dibudidayakan salah satunya dengan sistem hidroponik.

 

Menanam kangkung dengan hidroponik terbilang cukup mudah, bahkan bisa panen berkali-kali dalam satu kali tanam, setelah pangkas, 15 hari kemudian kangkung bisa dipanen kembali untuk yang keduakali, begitu seterusnya, selama kualitas pertumbuhannya masih bagus kangkung bisa dipanen berkali-kali.

 



Untuk kangkung hidroponik, di awal tanam sebaiknya jangan memberikan nutrisi dengan nilai PPM yang terlalu tinggi karena bisa over dosis atau penghamburan nutrisi, jangan juga terlalu rendah karena tumbuh kembangnya tidak akan maksimal.

 

Untuk kangkung hidrponik teknik pemberian niai PPM yang dapat digunakan adalah:

1. Di minggu pertama setelah tanam berikan 400 - 500 PPM

2. Di minggu ke 2 tambahkan +100 s/d 200 = mak 700 PPM

3. di minggu ke 3 tambahkan lagi nilai PPMnya +150 - 300, mak 1.000 PPM

4. Di minggu ke 4 tambahkan lagi nilai PPMnya dengan +100-300 ppm, masimal menjadi 1300ppm

 

Usia kangkung dari pindah tanam hingga panen kurang lebih 30 hari s/d 45 hari. Pastikan maksimal pemberian ppm adalah hingga 1400, jika sudah bernilai 1400 jangan ditambah lagi nutrisinya.

 

1 minggu menjelang panen pemberian nutrisi bisa dihentikan, air nutrisi ganti dengan air tawar biasa, ini bertujuan agar rasa kangkung lebih segar. 

 

Setalah panen dengan cara di pangkas, kangkung bisa tumbuh kembali dan 15 hari kemudian bisa dipanen kembali, sangat menguntungkan bukan.

 

Nilai PPM untuk pakcoy hidroponik.

Pakcoy sangat mudah sekali dibudidayakan secara hidroponik, lebih mudah perawatan dan hasil panennya bisa maksimal jika pemberian nutrisinya cocok.

 

Berdasarkan pengalaman Nilai ppm nutrisi untuk pakcoy tidak jauh berbeda dengan nilai PPM untuk kangkung

Untuk kangkung hidrponik teknik pemberian niai PPM yang dapat digunakan adalah:

1. Di minggu pertama setelah tanam berikan 400 - 500 PPM

2. Di minggu ke 2 tambahkan +100 s/d 200 = mak 700 PPM

3. di minggu ke 3 tambahkan lagi nilai PPMnya +150 - 300, mak 1.000 PPM

4. Di minggu ke 4 tambahkan lagi nilai PPMnya dengan +100-300 ppm, masimal menjadi 1300ppm

 

Usia kangkung dari pindah tanam hingga panen kurang lebih 30 hari s/d 45 hari. Pastikan maksimal pemberian ppm adalah hingga 1400, jika sudah bernilai 1400 jangan ditambah lagi nutrisinya.

 

Hindari pemberian nutrisi konstan dengan nilai yang besar.

Dulu sempat saya dikabari juga bahwa kangkung dan pakcoy, bisa menggunakan nilai PPM konstan, selalu sama dari awal pindah tanam hingga panen, bahkan sebagaian orang merekomendasikan pemberian nilai ppm 1.000 ppm dari awal hingga panen.

Menurut saya pemberian nilai PPM konstan apalagi nilainya besar, itu merupakan penghamburan nutrisi, praktik terbaik adalah memberikan nutrisi dengan nilai PPM dari kecil ke besar secara bertahap seiring dengan usia tanaman. sehingga penyerapan nutrisi bisa lebih maksima.


 Menanam hidroponik adalah cara menanam dengan memanfaatkan air yang didukung dengan teknologi, air yang digunakan adalah air biasa yang sudah dicampur dengan pupuk sebagai nutrisi dengan takaran tertentu untuk tumbuh kembang akar menyerap makanan.

Saat ingin menanam dengan teknik hidroponik, langkah pertama yang paling penting adalah harus ditentukan adalah sistem hidroponik yang ingin digunakan, sistem hidroponik yang dipilih akan mempengaruhi besar kecilnya modal yang harus dikeluarkan.

 

Ada banyak sekali teknik hidroponik yang banyak digunakan, diantaranya:

 

1. Sistem wick (Sistem Sumbu), Sistem air tergenang dan diam, dimana air nutiris sampai ke akar menggunakan bantuan kain planel sebagai sumbu untuk rambatan air sehingga nutrisi dapat sampai dan dapat diserap akar.


2. Sistem rakit apung, yaitu sistem air tergenang dimana airnya diberi oksigen dan diputar air menyentuh permukaan media tanam pada netpot.


3. Sistem DFT(Deep Flow Technique), sistem hidroponik dengan menggunakan air tergenang dan mengalir, sistem ini kebanyakan menggunakan pipa dan pompa, pada pipa di atur agar air ada yang tergenang diatur dengan ketinggian tertentu, ketika air sudah mencapai tinggi maksimal air mengalir ke lubang keluar, masuk ke tandon (wadah air) dan diputar dengan bantuan pompa untuk masuk dialirkan ke pipa kembali, pada sistem ini permukaan media tanam pada netpot tanam harus menyentuh permukaan air.

 

4. Sistem NFT(Nutrient Film Technique), sistem air mengalir tanpa ada genangan, biasanya menggunakan pipa dan pompa penarik, air dari tandon dihisap pompa untuk dialirkan ke pipa, dimana air di pipa harus di ataur setipis mungkin, air langsung keluar ke tandon (wadah air) dan diputar masuk kembali ke pipa begitu terus, pada sistem ini permukaan media tanam yang terdapat pada netpot tanam menyentuh permukaan air.

 

Dari ke 4 sistem hidroponik di atas tentu saja setiap sistem memiliki biaya instalasi yang berbeda-beda, namun yang paling murah dan sederhana adalah menggunakan sistem wick. hidroponik sistem wick atau sistem sumbu dapat menggunakan wadah untuk menampung air dari berbagai bahan, salah satu yang bisa digunakan adalah botol bekas, seperti misalnya botol plastik bekas aqua, bekas dirigen dan lain sebagainya.

 

Cara Bertanam Hidroponik Sederhana dengan Botol Bekas.

Untuk belajar menanam hidroponik, anda bisa memilih sistem hidroponik yang paling sederhana dan paling murah, yaitu menggunakan sistem wick, dengan media tanam dari botol bekas.

Sistem wick ini sistem yang paling sederhana, bahan-bahan yang dapat digunakan dapat dibuat dari botol plastik bekas.

 

Bahan-bahan yang harus disediakan untuk menanam sistem wick adalah:

 

1. Botol plastik bekas air minum mineral.

2. Kain planel, atau kain katun yang mudah menyerap air.

3. Media tanam (bisa rockwool, sekam bakar, kapas atau busa.

4. Air Tawar biasa (yang bagus itu yang memiliki nilai PPM kecil, di saya yang paling bagus itu air hujan yang sudah diendapkan atau air sumur).

5. TDS Meter untuk mengukur PPM (bisa beli harganya paling 35.000) ini wajib sih menurut saya agar bisa mengukur air nutrisi.

6. Pupuk Hidroponik ABMIX (nah untuk belajar lebih baik beli pupuk tinggal pakai, yaitu pupuk hidroponik ABMIX yang banyak dijual di toko-toko hidroponik online maupun offline). jika sudah mahir menanam hidroponik sebenarnya anda bisa beralih ke pupuk racikan sendiri yang tentunya harganya akan jauh lebih murah.


Membuat pot tanam hidroponik sistem wick dari botol bekas air kemasan.

Langkah pertama sebelum menanam hidroponik, silahkan sediakan beberapa buah botol bekas, kemudian buat seperti gambar di bawah ini:

Hidroponik sistem wick botol bekas

Konsep sistem wick, Anda bisa membuatnya seperti gambar di atas, lebih baik cat botol bening dengan cat gelap agar si air nutrisi tidak langsung terkena matahari, biasanya sih kalo bening suka lebih cepat ditumbuhi lumut.

Sebagai media tanam sebenarnya anda bisa menggunakan rockwool atau sekam bakar, jika yang ditanam dalam satu botol banyak biji, misal kangkung maka lebih baik memilih sekam bakar, jika setiap satu botol satu biji tanaman  seperti sawi-sawian, lebih baik menggunakan rockwool.

Sebaiknya anda melakukan penyemaian benih terlebih dahulu, terutama benih sawi-sawian, sementara jika yang ditanam seperti kangkung, itu bisa langsung ditanam tanpa harus disemai.

 

Pemberian Air nutrisi

Air nutrisi adalah air biasa yang dicampur dengan Pupuk ABMIX,  pastikan dilarutkan sesuai petunjuk, gunakan TDS meter, dan pastikan PPM air nutrisi untuk di awal tanam bernilai 400 PPM,  setiap minggu bisa dinaikan sebesar 100 ppm s/d 200ppm, begitu seterusnya hingga 1 minggu menjelang panen dihentikan. maksimal ppm yang diberikan sampai dengan kisaran 1400ppm ini khusus untuk sayuran daun termasuk sawi-sawian.

Untuk jenis sayuran daun

minggu 1 400ppm

minggu ke 2 400+150= 550ppm

minggu ke 3, 550+150 =600 ppm

dst

begitu seterusnya hingga menjelang panen, lihat pertumbuhan tanaman, jika tanaman sudah cukup usia anda bisa menambahkan + 200 ppm, pastikan maksimal 1400 ppm, 1 minggu menjelang panen untuk sayuran daun lebih baik ganti pakai air biasa agar rasa tanaman lebih segar.

 

 Kelemahan sistem wick

1. Karena sistem wick airnya diam, kadang si air kekurangan oksigen dan si air apabila terkena panas PH nya akan naik, sehingga daun menjadi bercak kuning, solusinya air nutrisi yang ada di wadah pot sering di goyang goyang atau di aduk agar oksigen masuk.

2. Pastikan agar si air tidak terkena matahari langsung, agar suhunya tidak mudah naik, cukup tanamannya saja yang terkena sinar matahari langsung.

 

3. Jangan terkena hujan, karena air nutrisi bisa tercampur air hujan sehingga ppmnya berubah.

 

Menurutku sistem wick itu repot apalagi wadah yang dibuat banyak, saat air nutrisi habis, kita mau-tidak mau direpotkan harus mengisinya satu persatu, sungguh tidak praktis. apalagi saat tanaman besar, maka air nutrisi akan lebih cepat habis.

Tapi untuk tahap pembelajaran sistem wick cocok karena biayanya lebih murah, jika sudah pintar dan paham bertanam hidroponik, maka bisa beralih ke Sistem DFT atau NFT. 


Apakah selain botol bisa menggunakan bahan lainnya?, 

Tentu saja bisa yang penting konsepnya sama, anda bisa menggunakan gelas besae, bekas dirigen plastik, bambu dan lain sebagainya. ingat yang penting konsepnya sama.

 Hampir semua jenis tanaman sayur daun bisa ditanam secara hidroponik, perawatan tanaman hidroponik terbilang cukup praktis, oleh karena itu sistem menanam hidroponik bisa menjadi pilihan, baik untuk sekala hobi, untuk tanaman sayur keluarga maupun untuk sekala bisnis.

 

Menanam hidroponik umumnya diawali dengan semai benih terlebih dahulu, yaitu menumbuhkan benih menggunakan media khusus agar benih dapat tumbuh serta dapat diseleksi kualitasnya. ada banyak sekali jenis media semai yang dapat digunakan untuk menyemai bibit hidroponi, salah satu media yang sering digunakan adalah rockwool, semacam kapas dari serat mineral yang mampu menyerap serta menyimpan air dalam waktu yang relative lama.

 

Rockwool adalah pilihan yang populer untuk menanam benih dalam sistem hidroponik karena memiliki beberapa keunggulan. Pertama, rockwool memiliki kemampuan untuk menyerap dan menahan kelembaban yang baik, sehingga dapat membantu menjaga kondisi lingkungan tumbuh yang tepat untuk benih hidroponik. Kedua, rockwool juga memiliki ketersediaan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan benih pada tahap awal. Ketiga, struktur serat mineral rockwool yang terbuka juga memungkinkan udara dan nutrisi untuk mengalir ke akar benih dengan baik.


Selain itu, rockwool juga relatif mudah untuk dipotong dan dikemas ulang sehingga cocok digunakan dalam praktik hidroponik yang sering mengharuskan pemindahan tanaman dari satu tempat ke tempat lain. Dalam hal ini, rockwool dapat digunakan untuk menumbuhkan bibit dengan ukuran yang seragam dan memungkinkan pemindahan yang mudah ke dalam sistem hidroponik yang lebih besar pada tahap yang lebih matang.


Cara Menyemai bibit hidroponik dengan rockwool

Untuk semai tanaman sayur daun seperti pakcoy, selada, bayam, sawi putih, sawi hijau dan tanaman sauran daun yang lainnya  sangat cocok menggunakan rockwool untuk media semainya.


Untuk menyemai bibit hidroponik dengan rockwool langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

 

1. Siapkan benih sayuran yang akan disemai, benih sebaiknya direndam terlebih dahulu dengan air hangat kuku 15 sd 20 menit, agar pori-pori benih terbuka sehingga benih terpacu untuk tumbuh, merendam benih juga bermanfaat untuk menyeleksi kualitas biji, biji yang baik umumnya tenggelam dan biji yang kualitasnya kurang baik akan mengapung, pastikan yang mengapung dibuang saja dan gunakan yang tenggelam untuk disemai.


2. Siapkan rockwool dan potong-potong persegi dengan ukuran 1.5 cm x 1.5 cm.

 

Rockwool media semai hidroponik

3. Basahi Rockwool dengan air tawar biasa, ingat membasahinya jangan terlalu basah dan juga jangan terlalu kering juga, yang penting pada saat rockwool dalam keadaan basah, dan ketika rockwool di anggat tidak ada kucuran air.

 

4. Semai butiran benih yang sudah direndam pada setiap bagian tengah potongan rockwook, satu potongan rockwool biasanya diletakan satu butir bijih benih.

 


 

 5. Simpan rockwool di tempat gelap, Setelah biji benih diletakan, kemudian simpan rockwool di tempat gelap, ini bertujuan untuk memacu hormon pertumbuhan agar benih lebih cepat menetas dan tumbuh tunas.

Simpan 1- 4 hari, jangan lupa cek sehingga setiap butiran benih pecah mentas dan kelihatan bakal tunasnya berwarna putih seperti gambar di bawah ini.



6. Jika semua benis sudah serempak sudah pecah dan muncul bakal tunas warna putih, jangan lupa untuk menjemur semaian setiap hari di bawah terik matahari. dan pastikan rockwool  selalu disiram agar terjaga kelembabannya, tidak kering dan selalu lembab.(awas jangan sampai rockwool kering dan juga terlalu basah pada saat penjemuran). 

Tujuan penjemuran adalah untuk menghindari bibit kutilang (tumbuh kurus tinggi langsing) yang jika ditanam kurang berkualitas.


7. Pelihara semaian hingga memiliki 2 daun sejati, selama penyemaian sekali-kali bisa disiram AB-MIX dengan takaran 100PPM, ini untuk memacu mempercepat pertumbuhan tunas, walaupun kelemahannya jika disiram AB-MIX selama penyemaian akan membuat rockwool dipenuhi lumut, tapi tidak masalah.

daun sejati pada bibit semaian.

 

Jika sudah muncul daun sejati, itu tandanya semaian hidroponik anda siap untuk dipindahkan bersama potongan rockwoolnya ke lubang media tanam yang sudah anda sediakan.


8. Silahkan ambil potongan rockwool yang sudah ditumbuhi bibit dan letakan di netpot dan letakan pada lubang media tanam pada sistem hidroponik yang anda gunakan.

ilustrasi lubang tanam hidroponik

9. Pemeliharaan Tanaman hidropik, Setelah itu anda bisa memelihara tanaman hidroponik anda sebagaimana mestinya, biasanya sih saat tanam pertama kali untuk tanaman sayur seperti pakcoy, sawi-sawian adalah 400PPM, meningkat 100-150 setiap minggu, maksimal hingga 1400PPM.


Usia tanaman hidroponik tergantung jenisnya untuk Sawi-sawian seperti pakcoy, sawi hijau dan semacamnya biasanya usia tanamnya hingga 30 hari sudah siap untuk dipanen.


 Ada banyak sekali jenis tanaman terutama tanaman sayuran konsumsi yang bisa kita tanam secara hidroponik, baik untuk kebutuhan sayuran rumahan, maupun untuk kebutuhan bisnis. menanam dengan teknik hidrponik dipilih karena pemeliharannya lebih praktis, tidak harus memiliki area persawahan dan harga jualnya pun lebih mahal.


Tidak jauh berbeda dengan teknik menanam sayuran secara konvensional, dengan teknik menanam secara hidro ponik pun hampir semua jenis tanaman sayuran bisa kita budidayakan. Namun pada saat memilih tanaman untuk skala bisnis, setidaknya kita harus melakukan riset pasar dan juga mampu menentukan jenis tanaman sayuran yang mudah tumbuh, dan cepat dipanen.

 

Jika tanaman semakin sering dipanen, maka penghasilan pun akan berbanding lurus dengan biaya dan tenaga yang kita keluarkan, semakin cepat dipanen uangpun akan lebih cepat kita dapatkan.

 

Untuk skala bisnis, jenis tanaman hidrponik yang bisa kita pilih untuk ditanam alangkah baiknya  memiliki karakteristik, sebagai berikut:

  • Memiliki masa panen yang singkat,
  • Mudah tumbuh dan mudah dipelihara
  • Banyak disukai oleh masyarakat
  • Harganya lumayan
  • Tidak perlu modal banyak
  • Lebih cepat dipanen
  • Bisa panen berkali-kali tanpa harus menaman ulang.

salah satu jenis tanaman hidrponik yang sesuai dengan karakter di atas adalah tanaman kangkung.


 Tanaman hidrpinik paling cepat panen

Dari sekian banyaknya tanaman jenis sayuran yang paling banyak ditanam secara hidrponik yang cepat untuk dipanen adalah kangkung.

 

Kangkung, tanaman hidrponik paling cepat panen

 

Masa panen kangkung adalah 28- hingga 30 hari, selain itu kangkung bisa dipanen secara berulang tanpa harus menanam lagi dari awal.

Setelah masa panen sebelumnya, kangkung bisa dipanen kembali setiap 15 hari begitu seterusnya, bahkan bisa dipanen sampai dengan 5 kali dengan kualitas yang cukup baik.


Kangkung hidroponik sangat menguntungkan untuk dibudidayakan 

Satu jenis tanaman sayuran yang bisa dibudidayakan secara hidrponik untuk sekala usaha adalah tanaman sayuran kangkung.

Banyak sekali petani sukses dari menanam kangkung, mereka mampu meraup keuntungan hingga jutaan rupiah dalam satu bulan hanya dari menanam kangkung.

Tanaman kangkung banyak dipilih karena di indonesia tanaman ini paling banyak diminati oleh masyarakat, bahkan tanaman kangkung disebut sebagai tanaman sejuta umat, itu karena terlalu banyak orang yang menyukai sayuran yang satu ini.

Dengan demikian kita sudah bisa memastikan bahwa pangsa pasar untuk tanaman ini cukup bagus, sehingga tanaman ini layak untuk dijadikan media bisnis.
 

Tanaman kangkung lebih cepat panen (28-30 hst) dan bisa dipanen lebih dari satu kali

Jika anda sedang mencari jenis tanaman yang bisa ditanam secara hidrponik dan lebih cepat panen, anda bisa memilih tanaman kangkung, jenis tanaman yang satu ini sangat cepat pertumbuhannya sehingga cepat untuk dipanen dan pemeliharannya tidak sulit.
 
Untuk kangkung hidrponik bisa dipanen pada usia 28 hingga 30 hari, tergantung kebutuhan, jika ingin mendapatkan tanaman muda maka kangkung bisa dipanen di usia 25-28 HST (hari setelah tanam).  jika ingin usia yang cukup ideal dikonsumsi rata-rata bisa dipanen pada usia 30 HST.

Keuntungan lain dari tanaman hidrponik kangkung adalah, tanaman ini bisa dipanen berkali-kali, setelah panen dengan cara dipetik.

Setelah panen yang pertama, tanaman ini dapat tumbuh lagi mengeluarkan tunas baru dengan baik bahkan tanpa harus dikasih nutrisi tambahan, setelah 15 hari tanaman ini bisa dipanen ulang, begitu seterusnya.

Saya pribadi pun sering menanam kangkung dan setiap 15 hari bisa dipanen hingga sampai 5 kali panen tanpa harus menanam ulang dari awal.

Untuk hidponik sekala besar, dengan kelebihan ini bisa anda gunakan untuk menanam kangkung dengan masa panen selang-seling, hingga setiap minggu bisa panen, atau diseting setiap hari agar bisa panen secara bergantian.


Kangkung mudah dipelihara dan dibudiayakan secara hidrponik

Selain memiliki masa penen yang singkat, kangkung mudah sekali dibudidayakan secara hidrponik, tidak banyak menghabiskan nutrisi, bahkan hanya dengan air biasa pun kangkung bisa tumbuh cukup baik.
 
 
Namun untuk mendapatkan hasil yang berlimpah kita lebih baik menyeuaikan kebutuhan nitrisi agar pertumbuhan kangkung bisa maksimal dan bisa dipanen dengan kualitas yang baik.

 

Banyak disukai oleh masyarakat dan harganya relatif murah

Mungkin ini bukan rahasia umum lagi, kita ketahui rata-rata masyarakat indonesia sangat menyukai kangkung sebagai sayuran yang kadang bisa dikonsumsi setiap hari, selain memiliki kandungan gizi yang bagus harga kangkung juga relatif murah sehingga terjangkau untuk kalangan kecil maupun menengah,.
 
Budidaya  kangkung hidrponik bisa dijadikan lahan untuk usaha kecil menengah yang cukup potensial. untuk skala kecil kangkung bisa dijual ke tetangga terdekat atau masyarakat sekitar, sementara untuk usaha sekala besar kita bisa menjualnya ke pasar atau ke toko-toko yang khusus menjual aneka sayuran.
 
Dengan pengemasan yang menarik ditambah embel-embel hidrponik dan tampilan menarik, umumnya masyarakat akan lebih menyukainya dan berminat untuk membelinya.
 
 
 
Sebenarnya ada banyak tanaman hidrponik yang cepat untuk dipanen, seperti pakcoy, chaisim, bayam dan tanaman sayuran semacamnya, namun kangkung bisa menjadi pilihan karena memiliki masa panen yang singkat, pemeliharan yang mudah juga bisa dipanen berkali-kali..

Kisah sukses petani kangkung raup puluhan juta rupiah dari jualan kangkung hidrponik

Zekky Bachry menempatkan 32 perangkat hidroponik bertingkat di lahan terbuka seluas 3.000 m². Petani di Desa Sukaluyu, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu menanam kangkung dengan teknologi hidroponik. 
 
Setiap perangkat terdiri atas 24 talang pipa polivinil klorida (PVC) dengan panjang masing-masing 12 meter. Ia menyusun talang-talang itu dalam rak berbentuk segitiga. 




Dari seluruh perangkat itu, Zekky memanen 1,5 ton kangkung setiap pekan. Zekky mengemas hasil panen dalam kemasan berbobot 250 g dan 1.000 g. Ia menjual hasil panen itu ke pasar swalayan Rp20.000 per kg. Artinya, dalam sepekan omzet Zekky rata-rata hingga Rp30-juta per pekan. Menurut Zekky dengan harga jual itu sangat menguntungkan meski biaya investasi ketika memulai budidaya relatif mahal.

Alumni Jurusan Fisika Universitas Indonesia itu mengatakan biaya produksi untuk menghasilkan 1 kg kangkung hidroponik hanya Rp8.000. Artinya, ia memungut laba Rp12.000 per kg. Dengan laba sebesar itu Zekky bisa mencapai balik modal setelah berproduksi selama 10 bulan. “Kangkung jenis tanaman yang mudah dibudidayakan dan disukai semua kalangan. Namun, nilainya akan meningkat jika dibudidayakan secara hidroponik,” kata Zekky.

Menurut praktikus hidroponik asal Kota Bandung, Jawa Barat, Charlie Tjendapati, budidaya kangkung dengan sistem hidroponik memang menguntungkan. Hasil hitung-hitungan Charlie, jika terdapat 86.400 lubang tanam, maka menghasilkan 5.400 kg sekali panen. “Sekilogram kangkung terdiri atas 64 tanaman. Jika setiap lubang tanam menghasilkan 4—6 tanaman, maka untuk menghasilkan sekilogram kangkung perlu 16 lubang tanam. Jika jumlah lubang tanam 86.400, berarti jumlah panen mencapai 5.400 kg,” katanya.


Salah satu sistem dalam menanam secara hidroponik yang paling banyak dipilih oleh para pemula yang masih belajar dan baru terjun ke dunia tanam menanam secara hidrponik adalah sistem wick.

 

Sistem wick dikenal juga sebagai sistem sumbu, adalah sistem menanam hidrponik yang menggunakan air tergenang pada suatu wadah dimana pada setiap pot tanamnya menggunakan sumbu dari kain flanel atau kain lainnya  yang mudah menyerap air, fungsi dari sumbu tersebut untuk menghantarkan air nutrisi ke akar tanaman.

 

Sistem wick merupakan sistem yang paling murah dan mudah untuk diimplementasikan, karena sistem ini bisa menggunakan peralatan bekas yang banyak tersedia di rumah seperti botol plastik bekas air mineral, dirigen bekas, sisa pipa vpc yang tidak terpakai, dan lain sebagainya yang penting wadah tersebut mampu menampung air dan disarankan bukan terbuat dari logam. 

kelebihan dan kekurangan hidrponik sistem wick
Konsep sistem wick hidrponik

Hidroponik sistem wick memang sangat cocok untuk pemula yang baru memulai ingin bertanam hidrponik, dengan modal yang cukup murah dari sistem inilah para pemula akan banyak belajar mengenai cara merawat tanaman hidroponik sehingga mereka seiring waktu akan mampu mengenali setiap kendala pada tanaman hidrponik terutama sistem wick. 

 

Mengenai sistem wick di artikel kali ini saya akan coba menguraikan kekurangan dan kelebihan dari sistem wick yang harus anda ketahui, sehingga dengan mengenali kelebihan dan kekurangannya anda setidaknya bisa mempertimbangkan untuk memilih sistem wick ini serta dapat mengantisifasi setiap permasalahan pada sistem wick ini.

 

Kelebihan dan Kekurangan sistem wick.

Sistem wick memang sangat sederhana dan sangat murah, jika dibandingkan dengan sistem lainnya seperti sistem DFT, NFT, sistem rakit apung, sistem wick ini terbilang sistem hidrponik yang paling murah, namun sistem wick ini cukup sulit dalam praktis.


1. Kelebihan sistem Wick

Untuk anda pemula anda bisa mulai mencoba bertanam hidrponik dengan sistem wick (sistem sumbu), kelebihan sistem wick adalah sebagai berikut:

 

a. Biaya murah

Sistem wick bisa menggunakan barang-barang bekas yang banyak ersedia di rumah, seperti wadah-wadah plastik, bekas botol air mineral, kotak styrofoam box makanan, kotak styrofoam bekas buah-buahan dan lain sebagainya, dengan menggunaan media tanam yang banyak tersedia di rumah, maka akan menghemat biaya.


b. Sistem wick tidak perlu menggunakan Pompa

Pada sistem wick sebenarnya tidak perlu menggunakan pompa baik pompa aerator namun pompa air, namun begitu jika memang memiliki modal lebih anda bisa menggunakan pompa udara atau pompa aerator untuk menyuplai oksigen ke air sistem wick yang umumnya tergenang alias tidak mengalir. Dengan tambahan pompa erator setidaknya anda tidak perlu repot mengobok-obok air nutrisi secara manual.


2.  Kekurangan sistem Wick

Selain memiliki kelebihan sistem wick hidroponik juga memiliki beberapa kelemahan yang harus anda waspadai, kelamahan dari sistem wick adalah sebagai berikut:

 

a.  Perawatan yang cukup sulit.

Sistem wick merupakan salah satu sistem hidrponik yang kurang praktis menurut saya, kita akan cukup dibuat repot pada saat pemeliharaan apalagi jumlah tanaman dan media tanamnya banyak, seperti ketika mengganti air nutrisi apabila air nutrisi pada wadah sistem wick habis, atau ketika ingin menaikan nilai PPM air nutrisi. 

 

Jika wadah lebih dari satu maka kita akan cukup di buat repot pada saat pemberian air nutrisi baik pada saat obok-obok air nutrisi untuk oksigen, ingin meningkatkan PPM air nutrisi atau pada saat ingin menambah air nutrisi karena habis terutama pada saat menjelang panen air akan cepat habis dan kita harus sering cek dan menambahkan air nutrisi ketika air surut diserap oleh tanaman.

 

b. Pertumbuhan tanaman kurang maksimal

Tanaman hidroponik sangat ditentukan oleh kadar oksigen dalam air nutrisi, nilai PPM air nutrisi dan suhu air nutrisi, jika satu diantaranya kurang maka pertumbuhan tanaman hidrponik dapat dipastikan akan terganggu dan kurang maksimal, bahkan bisa jadi mati.

 

Pada sistem wick dengan air tergenang tanpa aerator jika kita kurang telaten dalam pemeliharaan, maka bisa jadi air nutrisi akan kurang oksigen, atau suhu air naik yang mengakibatkan mengganggu pertumbuhan tanaman menjadi lebih lambat.

 

c. Mudah terkena busuk akar

Karena menggunakan air tergenang, apabila suhu naik dan air kekurangan oksigen, maka jika dibiarkan terus demikian akan berpengaruh pada PH air nutrisi yang meningkat dan jika terus dibiarkan bisa mengakibatkan busuk akar karena pertumbhan jamur pda akar tanaman, sehingga tanaman bisa layu dan mati.


SOLUSI

Kekurangan di atas sebenarnya bisa dihindari jika kita telaten memelihara tanaman hidrponik kita yang menggunakan sistem wick. sebagai berikut:

 

  • Menjaga agar air terus mendapatkan suplai oksigen, bisa dilakukan manual dengan cara di obok-obok airnya diobok-obok setiap hari minimal satu kali, atau menambahkan pompa aerator.
  • Menghindari panas berlebih pada air dan udara di sektar wadah media tanam, kita bisa menjemurnya di bawah plastik UV (Grand house), atau memberikan warna terang pada tutup atau wadah media tanam yang digunakan.
  • Memastikan tanaman mendapatkan nilai PPM yang cocok, agar lebih mudah kita bisa menggunakan TDS Meter.
  • Pemeliharaan lebih telaten

 

Dengan upaya di atas, kemungkinan besar tanaman hidrponik kita yang menggunakan sistem wick, baik dari botol bekas, box styrofoam nasi, atau box styrofoam bekas buah-buahan dan media lainnya bisa tumbuh berkembang dengan baik dan bisa panen secara maksimal.

Di indonesia sendiri bertanam dengan sistem hidroponik saat ini sudah mulai banyak dilirik oleh berbagai kalangan, tidak perlu punya basic ilmu tani yang ahli, tidak juga perlu punya lahan pertanian yang luas, siapapun bisa menjadi petani hidroponik cukup hanya dengan mengandalkan pekarangan rumah, teras loteng, pagar rumah, belakang rumah yang area lainnya yang mendapatkan sinar matahari yang cukup.

Hidroponik banyak dipilih karena sistem pertanian ini terbilang sangat praktis jika dibandingkan dengan sistem pertanian konvensional, berikut beberapa kelebihan menanam dengan sistem hidrponik dibandingkan dengan sistem konvensional (pertanian biasa):

1. di sistem hidroponik, kita tidak perlu lagi memikirkan jadwal menyiram tanaman karena hidrponik di tanam menggunakan media air.

2. Kita juga tidak perlu mengolah tanah yang bisa mengakibatkan kotor karena ditanaman menggunakan air.

3. Dalam sistem hidrponik kita tidak perlu memikirkan cara membersihkan gulma atau rumput hama disekitar tanaman hidrponik, karena dalam sistem hidrponik sangat kecil peluang rumput tumbuh di sekitar tanaman hidrponik, bahkan peluangnya 0%,

4. Dalam hidrponik kita tidak perlu memikirkan hama tanaman, jika sistem hidrponik dibuat dengan baik sangat kecil pelunag hama tanaman menyerang tanaman. sehingga tanaman hidrponik akan lebih sehat dan terhindar dari semprotan pestisida.

5. Pertumbuhannya lebih cepat
Pertumbuhan tanaman hidrponik jika dikelola dengan benar, pertumbuhannya terbilang lebih cepat, lebih lebat dan lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan sistem pertanian konvensional.

6. Perawatan lebih mudah.
Perawatan sistem pertanian hidrponik lebih mudah, kita hanya perlu memperhatikan air nutrisi jangan sampai habis, memperhatikan nilai PPM & PH air nutrisi cukup dilakukan seminggu sekali.


Walaupun memiliki banyak kelebihan dan ke praktisan, ternyata ada banyak sekali masalah dalam sistem hidrponik yang bisa dialami oleh anda terutama para petani hidroponik pemula.

Permasalahan -permasalahan dalam bertani dengan sistem hidroponik harus dikenali dengan baik oleh setiap petani hidrponik, terutama petani hidrponik pemula, agar bisa diantisifasi sehingga jika kita mengalami permasalahan serupa bisa tahu solusi untuk mengatasinya, sehingga kita bisa menjadi petani yang sukses dunia akhirat...hehe.

Masalah dalam hidroponik

Ada banyak sekali masalah yang bisa muncul ketika anda bertanam dengan sistem hidrponik, masalah ini bisa saja anda alami baik anda petani hidrponik pemula bahkan hidrponik yang sudah berpengalaman sekalipun. berikut adalah beberapa masalah yang sering sekali dialami oleh para petani hidrponik.

Berikut beberapa masalah dalam sistem hidrponik:

#1: Kulitang/Etiolosi

Kutilang (Kurus tinggi langsing) atau bahasa kerennya (bahasa ilmiahnya) adalah etiolosi, merupakan kondisi yang sering terjadi pada semaian benih tanaman sayuran dimana postur tubuh tanaman kurus, tinggi dan langsing serta berwarna pucat seperti gambar di bawah ini:

benih tanaman kutilang
Contoh tanaman kutilang
Kutilang sering dialami oleh para petani hidroponik terutama pada pertumbuhan benih yang disemai, untuk mengenali kutilang berikut ciri-ciri yang dapat anda amati:
  • Batang tanaman terlihat lebih panjang akibat tingginya kandungan air akan tetapi batang terlihat tidak kokoh (kurus)
  • Tanaman terlihat lemah dan pucat
  • Memiliki daun yang kecil-kecil , tipis, dan berwarna pucat. Kondisi ini dikarenakan kandungan klorofil yang sedikit
  • Memiliki akar yang kurang lebat

Kutilang bisa terjadi karena tanaman/benih kurang atau minim sekali mendapatkan sinar matahari yang cukup, misal diletakan ditempat gelap dalam waktu yang lama, sehingga hormon auksin pada tanaman bekerja lebih  aktif yang menyebabkan pertumbuhan tanaman lebih cepat.

Cara agar benih tidak Kutilang 
Ketika anda menyemai benih anda bisa saja meletakan benih ditempat gelap untuk memancing hormon auksin aktif agar pertumbuhan lebih cepat, namun jangan terlalu lama, jika biji sudah pecah atau sprout benih harus cepat mendapatkan sinar matahari yang cukup. dijamin tidak kutilang.

#2: Busuk Akar

Permasalahan ke dua yang sering dialami oleh para petani hidrponik adalah busuk akar, busuk akar adalah kondisi dimana akar tanaman hidrponik membusuk yang sisebabkan oleh patogen jamur yang menyerang akar.

Busuk akar banyak dialami pada sistem hidrponik yang menggunakan sistem dengan air tergenang/ air yang tidak dialirkan seperti sistem rakit apung, sistem wick atau sistem kratky, jika daun menguning dan layu maka anda harus periksa kondisi akar tanaman, jika kondisi akar terlihat seperti gambar di bawah ini, itu sudah dipastikan tanaman anda terkena busuk akar.

contoh tanaman hidrponik terkena busuk akar


Tanaman pada sistem hidrponik tersebut memiliki potensi untuk terserang busuk akar apabila suplai oksigen pada air nutrisi kurang, kurangnya ventilasi udara dan media instalasi mudah menyerap panas karena penggunaan warna yang dominan gelap, sehingga suhu air nutrisi mudah naik.

Cara menghindari busuk akar
Untuk menghindari busuk akar jalan satu-satunya adalah memastikan agar air nutrisi suhunya tetap dingin juga pastikan air nutrisi mendapatkan banyak suplai oksigen, untuk menghindari busuk akar beberapa hal berikut bisa anda lakukan:

1. Mencat media instalasi dengan warna yang lebih terang atau melapisi media instalasi tanaman hidrponik dengan alumunium voil agar cahaya matahari mudah dipantulkan dan tidak menyerap panas, sehingga suhu air nutrisi tetap terjaga dingin.

2. Menambah aerator atau selang oksigen pada air nutrisi.
Anda bisa menggunakan aerator atau menambah selang oksigen pada pompa, beberapa pompa ada yang dilengkapi dengan selang oksigen, silahkan gunakan dan manfaatkan agar air nutrisi mendapatkan suplai oksigen yang cukup untuk tanaman.

3. Memilih air baku yang bersih dan berkualitas.
Patogen jamur bisa bersumber dari air baku yang digunakan untuk air nutrisi, ketika lingkungan mendukung, suhu air panas dan oksigen kurang patogen jamur akan mudah sekali tumbuh yang bisa menyerang akar hingga terjadi pembusukan, oleh karena itu pastikan anda menggunakan air baku yang sudah dapat dipastikan kebersihannya, ppmnya rendah, memiliki PH yang rendah juga bersih.

#3: Daun Menguning


contoh daun tanaman hidrponik menguning
Ada banyak penyebab kenapa daun hidrponik bisa menguning, bisa karena kekurangan nutrisi, bisa karena kelebihan nutrisi, bisa karena busuk akar, karena suhu disekitar akar panas dan lain sebagainya, jika daun kuning anda harus mengenali gejalanya terlebih dahulu baru setelah diketahui penyebabnya anda bisa mengatasinya.

Mengenai kuning pada dun hidrponik, anda bisa baca artikel berikut:
Penyebab daun menguning pada tanaman hidrponik dan cara mengatasinya.

#4: Daun Menggulung

Permasalahan daun kecil dan menggulung juga sering dialami oleh para petani hidrponik terutama pada tanaman sayuran daun seperti kangkung, pakcoy dan jenis sawi-sawian.

Penyebab daun menggulung dan kecil biasanya karena kelebihan nutrisi, saya sendiripun pernah mengalaminya pada tanaman hidrponik pakcoy yang saya tanam menggunakan sistem DFT, daun memang terlihat hijau, namun pertumbuhan daun tidak maksimal, daun tumbuh menggulung di ujung sisi-sisinya dan dau sulit sekali besar.

Contoh daun hidrponik hijau tapi mengulung

Solusinya jika daun berwarna hijau pekat namun menggulung kecil, maka coba untuk mengurangi nutrisi sedikit-sedikit lalu amati, berdasarkan pengalaman saya, umumnya menggulung pada daun seiring pengurangan nilai PPM pada nutrisi akan kembali normal.

#5: Pertumbuhan Tanaman kurus dan kerdil.

Permasalahan kelima yang sering dialami oleh para petani hidrponik terutama para petanik hidrponik pemula yang belum berpengalaman adalah pertumbuhan tanaman kurus dan kerdil.

Penyebab kenapa tanaman sulit berkembang dan pertumbuhannya kurus dan kerdil, walaupun kebutuhan nutrisi sudah sesuai anjuran biasanya disebabkan oleh kekurangan oksigen pada air nutrisi, dan air baku memiliki PPM yang tinggi.

Saya pribadipun pernah mengalaminya ketika menggunakan sistem wick dengan botol bekas, dan ketika dibandingkan dengan sistem DFT pertumbuhannya jauh sekali, DFT lebih besar sementara yang menggunakan sistem wick sepertinya tanaman sulit sekali berkembang, bahkan ketika menjelang panen pun pertumbuhannya kecil dan kerdil.

Solusi agar tanaman hidrponik tidak kurus dan kerdil:

a. Pastikan air nutrisi mendapatkan suplai oksigen yang cukup, silahkan tambahkan aerator atau pompa udara, atau jika menggunakan sistem wick, seringlah untuk mengobok-obok air nurtisi di setiap pagi, siang dan sore hari agar air nutrisi mendapatkan oksigen yang cukup yang bermanfaat untuk akar.

b. Pastikan menggunakan air baku dengan nilai PPM yang kecil, setidaknya di bawah 100 PPM lebih kecil akan lebih baik.

c. Pastikan Sirkulasi air pada talang instalasi hidrponik cukup kencang dan tersirkulasi dengan baik.

d.Pastikan Suhu air nutrisi tetap terjaga, suhunya tidak naik, dengan cara memilih warna terang dan jika cukup modal bisa menggunakan pelapis alumunium voil.

e. Pastikan PPM terpenuhi dengan baik,
Ini yang tidak kalah pentingnya, pemberian nutrisi harus sesuai dengan anjuran umumnya setiap tanaman memiliki konsumsi nutrisi seiring usia.

Satu keunikan yang sering terjadi pada tanaman hidroponik, terutama tanaman hidroponik sayuran daun seperti pakcoy, kangkung, bayam dan jenis sawi-sawian adalah daun layu.

Daun menjadi layu pada saat siang hari ketika terik sinar matahari baik pada kondisi tanaman masih kecil maupun sudah besar, namun tanaman akan kembali segar pada saat tidak ada matahari seperti pagi dan sore hari.

Ini sering saya alami dulu ketika pertama kali mulai bertanam secara hidroponik menggunakan sistem wick mengunakan botol bekas air mineral, awalnya sempat kaget juga, kenapa kok tiba-tiba layu, padahal akar tanaman sudah tumbuh cukup banyak dan air nutrisi masih cukup banyak juga.

Dan setelah diamati layunya daun tanaman hidroponik tersebut terjadi setiap hari pada saat matahari sedang panas-panasnya, namun ketika sore hari tanaman kelihatannya segar kembali.

penyebab daun tanaman hidrponik layu di siang hari


Layunya tanaman sebenarnya bukan masalah serius, namun tetap harus diwaspadai, karena jika dibiarkan terus menerus akan membuat tanaman sulit berkembang bahkan bisa-bisa terkena busuk akar yang membuat tanaman hidroponik kita layu dan pada akhirnya mati.

Penyebab daun tanaman hidroponik layu di siang hari

Sempat bingung awalnya, namun setelah mencari tahu di group-group hidroponik di facebook dan juga artikel tentang hidroponik, daun layu pada tanaman hidroponik merupakan masalah yang sering sekali dialami oleh petani hiroponik.

Dan ternyata ada beberapa penyebab kenapa tanaman hidroponik daunnya layu di siang hari, namun pada saat pagi hari dan sore hari ketika matahari sudah tidak terlalu terang, tanaman mulai segar kembali.

Penyebab tanaman hidrponik daunnya layu umumnya disebabkan karena

suhu air nutrisi tempat tanaman tumbuh temperaturnya tinggi.

Berikut penyebab kenapa suhu air nutirisi hidroponik temperaturnya tinggi yang membuat daun tanaman hidrponik layu pada siang hari:

1. Kurang sirkulasi udara pada wadah nutrisi.

Penyebab daun tanaman hidroponik layu bisa dikarenakan karena suhu air tinggi, ini sering terjadi pada sistem hidroponik yang menggunakan air tergenang dan tidak mengalir seperti sistem wick, sistem kratky atau sistem rakit apung, pada sistem tersebut suhu air nutrisi menjadi naik bisa disebabkan karena kurangnya sirkulasi pada wadah tanam.

2. Air nutrisi kekurangan suplai oksigen.

Penyebab kedua yang menyebabkan tanaman layu dikarenakan air nutrisi kekurangan oksigen, untuk mengatasinya upayakan agar air nutrisi mendapatkan asupan oksigen yang cukup, jika menggunakan sistem wick, seringlah mengobok obok wadah air nutirisi, atau anda juga bisa memasang aerator/pompa udara, jika menggunakan sistem apung, pastikan pompa dilengkapi selang oksigen, jika luas bak nutrisi rakit apung luas, pertimbangkan untuk menggunakan 2 pompa atau lebih, memasang aerator akan lebih baik agar air nutrisi kaya akan oksigen yang bagus untuk akar tanaman.

3. Suhu terlalu tinggi

Penyebab yang ketiga kenapa daun tanaman hidroponik layu, bisa jadi karena suhu disekitar daerah anda terlalu tinggi, jika ini anda alami, pertimbangkan untuk memasang green house yang beratapkan plastik UV atau paranet sehingga tanaman tidak langsung terkena terik sinar matahari.
 

4. Kecepatan sirkulasi air kurang kencang.

Penyebab ke 4 khusus untuk anda yang menanam hidroponik yang menggunakan sistem NFT atau DFT namun daun tanaman layu kemungkinan suhu sekitar sangat tinggi, sementara aliran sirkulasi air kurang kencang, sehingga air nutrisi suhunya mudah naik yang mengakibatkan daun tanaman hidroponik menjadi layu.

5. Talang instalasi menggunakan warna gelap yang menyerap panas.

Penyebab yang kelima kemungkinan besar karena anda menggunakan media talang instalasi dari warna yang gelap, seperti menggunakan PVC hitam dan bahan-bahan lainnya yang warnanya dominan gelap.

Warna gelap sangat baik menyerap panas sehingga ini bisa menyebabkan air nutrisi temperaturnya cepat naik.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pastikan pipa yang digunakan berwarna terang, jika sudah terlanjur menggunakan warna hitam anda bisa melapisinya dengan alumunium voil atau mencatnya dengan warna terang seperti putih.

Warna terang terbukti sangat berpengaruh sekali pada pertumbuhan tanaman hidroponik, karena suhu air nutirisi yang digunakan untuk media tanam harus terjaga suhunya jangan sampai naik, jika suhu naik ditambah dengan suplai oksigen kurang akan mudah sekali memancing pertumbuhan jamur pada akar tanaman yang bisa menyebabkan tanaman menjadi layu dan akhirnya mati.



Tanaman hidroponik kini menjadi salah satu pilihan, selain mudah dalam pemeliharaan, tanaman hidrponik tidak tergantung pada lahan tanah pertanian, kita bisa menanam hidrponik di pekarangan, rumah di balakang rumah yang penting terkena sinar matahari.

Menanan secara hidrponik memang mudah-mudah gampang, jika kita sudah tahu cara dan juga triknya, maka kemungkinan besar kita akan berhasil hingga panen melimpah, namun jika belum tahu triknya tidak jarang justru menemui kegagalan.

Ada banyak permasalahan yang sering dialami oleh para petani hidrponik ketika mereka menanam tanaman secara hidrponik, yang paling sering dialami terutama oleh para petani hidrponik pemula adalah permasalahan pada daun tanaman, terutama tanaman sayur-sayuran yang ditanam secara hidrponik, seperti pakcoy, kangkung, sawi-sawian dan lain sebagainya.

Permasalahan yang sering dialami pada jenis tanaman sayur yang ditanam secara hidrponik adalah daun menguning, daun menggulung atau daun keriting, dimana permasalahan tersebut sering mempengaruhi pertumbuhan tanaman hingga tanaman kurang maksimal pertumbuhannya.

Penyebab daun tanaman hidrponik menguning.

Ketika kita menanam dengan sistem hidroponik, terutama menanam tanaman sayuran daun, seperti pakcoy, kangkung, sawi, bayam dan tanaman serupa lainnya, yang mungkin bisa dialami oleh petani hidroponik pemula adalah daun kuning.

Jika daun tanaman hidroponik menguning itu artinya tanaman hidroponik anda sedang bermasalah, oleh sebab itu kita harus mencari tahu apa penyebabnya sehingga kita tahu solusinya.

Berikut beberapa penyebab kanapa daun hidroponik menguning:

1. Kurang nutrisi & PPM air baku terlalu tinggi.

Kekurangan nutrisi dan penggunaan PPM air baku terlalu tinggi bisa menyebabkan daun menguning, ciri daun kuning karena kekurangan nutrisi biasanya urat daun berwarna hijau namun disekitar urat daun berwarna kuning seperti terlihat pada gambar di bawah ini:
Jika tanaman daun hidroponik anda menguning terlihat seperti gambar di atas, kemugkinan besar tanaman hidroponik anda kekurangan nutrisi atau air baku yang digunakan PPM nya terlalu tinggi.

Solusinya, tambahkan PPM nutrisi secara bertahap dan lihat perkembangannya 3 hari ke depan,  pastikan anda menggunakan air baku dengan nilai PPM di bawah 100 atau 20 lebih bagus. Umumnya apa yang pernah saya alami pemberian ppm dan penggantian air baku dengan air baku ber PPM rendah akan membuat daun akan terus menghijau seiring waktu.

2. Air kurang oksigen dan suhu terlalu tinggi

Yang kedua yang bisa menyebabkan daun menguning, karena tingginya suhu udara di sekitar akar, dan juga akar kekurangan oksigen.

Ciri tanaman kuning, karena air nutrisi kekurangan oksigen terlihat seperti gambar di bawah ini:


Ini sering dialami oleh petani hidroponik yang menggunakan sistem hidroponik dengan air tergenang seperti sistem wick atau sistem rakit apung.

Solusinya jika kondisi daun menguning seperti gambar di atas, sebaiknya tambahkan kebutuhan oksigen untuk air nutrisi misal memasang aerator/pompa udara, kemudian pastikan permukaan media tanam berwarna terang yang dapat memantulkan cahaya, seperti menggunakan alumunium foil dan warna serupa lainnya.

Jika dibiarkan air nutrisi kekurangan oksigen dan suhu disekitar akar tinggi, biasanya akan busuk akar dan pada akhirnya tanaman akan mati.

3. Karena Busuk Akar

Penyebab menguningnya daun hidroponik salah satunya karena busuk akar. busuk akar terjadi karena akar terkena jamur disebabkan oleh kurangnya kadar oksigen dalam air nutirisi dan juga suhu atau temperatur air nutrisi tinggi.

Jika daun tanaman hidroponik anda terlihat menguning, maka sebaiknya anda periksa kondisi akar tanaman tersebut, kondisi akar tanaman yang terserang busuk akar terlihat coklat dan berlendir, akan terlihat seperti gambar di bawah ini:



Busuk akar sulit untuk diatasi, umumnya jika akar sudah terkena jamur dan membusuk tanaman akan menguning, layu dan akhirnya mati, jika terjadi busuk akar sebaiknya buang tanaman yang sudah terkena busuk akar, sebelum menjalar ke tanaman lainnya, jika sudah parah lebih baik buang  semua tanaman, kuras bak penampung dan juga pipa serta tandon nutiri, lalu mulai lagi dari awal.

 4. ph air nutrisi terlalu tinggi

Terus terang saya pribadi selama mengenal cara bertanam hidroponik tidak pernah otak-atik PH, saya hanya fokus di nutrisi, suplai oksigen di air nutiri dan sirkulasi air nutirisi, ya mungkin di daerah saya suhunya dingin jadi cocok untuk berhidroponik.

PH normal umumnya 6.5 - 7, namun PH bisa naik dan turum, PH bisa naik karena suhu temperatur air nutiri naik, atau ada penyebab lainnya yang saya pun kurang tahu penyebab pastinya.

Namun PH tinggi dapat menyebabkan daun tanaman hidroponik juga ikut menguning, jika daun menguning karena ketinggian PH solusinya kadang para petani hidroponik menggunakan PH down dan bahan kimia lainnya.


Ketika daun tanaman hidroponik anda menguning, maka langkah pertama yang harus anda lakukan adalah mencari tahu kenapa daun bisa menguning, setelah dikethui penyebabnya segerlah untuk mengatasinya, daun menguning masih bisa di atasi selama belum tarjadi busuk akar, jika sudah terjadi pembusukan akar karena akar terkena jamur, sebaiknya buang, bersihkan semua talang instalasi dan mulai lagi dari awal.

Semoga artikel di atas membantu anda terutama anda yang kebetulan sedang mengalami permasalahan pada daun tanaman hidroponik anda yang menguning.

Lagi malas menulis artikel yang membahas tentang blogging, karena sudah terlalu main extreme saingannya, juga sering menjadi korban copaser, di scraping, dicopas, di sadap dll. oleh karena itu kemungkinan di beberapa bulan kedepan saya akan banyak  membahas tentang hidroponik saja dulu, ya karena lagi senang mengisi waktu luang di masa covid 19, dari pada tidak ada kegiatan di luar, akhirnya di rumah sambil belajar bercocok tanam secara hidroponik di pekarangan belakang rumah.

Walaupun ada lahan pertanian milik orang tua yang cukup, saya lebih memilih untuk bercocok tanam dengan hidroponik, karena biar tidak kotor-kotoran main tanah dan juga tidak terlalu capai memikirkan kegitan menyiram dan membersihkan rumput, selain itu menanam dengan sistem hidroponik tidak perlu harus berjemur seharian dibawah terik matahari, kita hanya perlu memikirkan pemberian nutrisi pemeliharaan yang hanya perlu dilakukan paling tidak 1 minggu sekali

Mengenai sistem hidroponik, sebenarnya ada banyak sistem hidroponik yang banyak digunakan di seluruh dunia, tapi di artikel kali ini saya akan fokus menjelaskan tentang kelebihan dan kekurangan sistem hidroponik untuk 4 sistem saja, yakni sistem wick, sistem NFT, sistem DFT dan sistem Rakit Apung.

ke 4 Sistem tersebut lebih saya pilih untuk saya jelaskan, karena implementasinya cukup mudah dan cukup banyak digunakan oleh petani hidroponik di indonesia, baik petani hidroponik yang sudah berpengalaman atau petani hidroponik yang baru terjun atau benar-benar masih pemula.

Selain itu di beberapa group sosial media seperti facebook, komentar youtube, saya amati ternyata ada banyak sekali pertanyaan tentang hidroponik sistem wick, nft, dft dan rakit apung tersebut, termasuk pertanyaan tentang kelebihdan dan ke kurangan ke 4 sistem tersebut.

Kelebihan dan Kekurangan Hidroponik Sistem Wick/Sumbu


Hidroponik Sistem Wick atau sistem Sumbu paling banyak dipraktekan oleh pemula yang baru mencoba menanam hidroponik untuk pertama kalinya, selain tidak memerlukan modal yang besar, hidroponik sistem wick bisa menggunakan barang-barang bekas yang ada di rumah, seperti bekas air mineral, bekas pipa, dirigen dan lain sebagainya.

Jadi untuk anda yang ingin memulai hidroponik dan baru belajar, lebih baik anda memilih sistem wick, dengan cara memanfaatkan barang-barang bekas di rumah anda,  seiring waktu anda akan tahu cara bertanam hidroponik dan anda akan mendapatkan pengetahuan mengenai ara bertanam hidroponik.

Sistem wick memang banyak memiliki kelebihan, namun di balik kelebihannya ternyata terdapat juga kelemahannya.

A. Kelebihan Sistem Wick

Berikut beberapa kelebihan atau keuntungan menggunakan hidroponik sistem wick:

1. Murah tidak perlu modal besar
Karena bisa memanfaatkan barang-barang/wadah bekas yang ada di rumah.

2. Bisa memanfaatkan pekarangan yang sempit
Karena umumnya sistem wick menggunakan wadah-wadah dengan ukuran kecil, kita bisa meletakan di beberapa sudut pekarangan yang tidak terlalu luas yang penting terkena cukup sinar matahari setiap harinya.

3. Tidak perlu menggunakan energy listrik.
Pada sistem wick kita tidak perlu menggunakan listrik karena sistem wick umumnya bisa diimplementasikan tanpa harus memakai pompa/aerator.

4. Mudah pembuatan instalasinya
Instalasi hidroponik sistem wick terbilang cukup mudah, hanya dengan menyediakan wadah yang dapat menampung air, netpot yang bisa kita buat dari wadah-wada bekas ice ceream serta sumbu dari kain planel atau kain yang bisa menyerap air itu sudah cukup. sangat mudah sekali instalasinya

5. Hama tidak cepat menyebar
Hama yang menyerang akar tidak cepat menyebar ke tanaman lainnya dikarenakan menggunakan wadah yang berbeda.

6. Bisa memanfaatkan barang bekas yang ada disekitar rumah
Kelebihan lainnya dari sistem wick adalah, kita bisa memanfaatkan segala macam barang-barang yang ada di rumah yang bisa menampung air apapun itu sehingga akan hemat biaya.

B. Kekurangan / Kelemahan Sistem Wick

Sedangkan kekurangan atau kelemahan sistem wick diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Repot sekali dalam pemeliharaan (pemberian air nutrisi dll).
Karena sistem wick biasanya menggunakan wadah-wadah secara terpisah (sendiri-sendiri), ini cukup merepotkan pada saat mengisi ulang air nutrisi yang menyusut karena dikonsumsi oleh tanaman hidroponik kita tatkala tanaman sudah besar.

Ketika tanaman masih kecil, ini tentu tidak terlalu berpengaruh, namun ketika tanaman sudah besar apalagi menjelang panen, kebutuhan air niutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman akan sangat banyak sehingga tandon/wadah air nutrisi akan semakin cepat habis terkuras diserap oleh akar tanaman hidroponik kita, sehingga dengan demikian memaksa kita untuk sering mengisi ulang wadah-wadah yang airnya surut satu persatu.

2. Mudah terkena busuk akar
Yang kedua kelemahan dari sistem wick adalah jika kita kurang telaten, tanaman mudah terkena hama yang menyerang akar yaitu busuk akar yang disebabkan oleh air nutrisi yang sangat jenuh, dan suhu tinggi yang kita biarkan. biasanya tanaman akan menguning pada akhirnya mati.

Untuk menghindarinya kita harus sering mengobok-obok air nutrisi serta wadah tanam harus terdapat pentilasi yang cukup.

3. Tanaman terkadang sulit berkembang.
Tanaman hidroponik yang ditanam pada sistem wick terkadang sulit berkembang kurus dan kerdil, biasanya dikarenakan karena air kekurangan oksigen, suhu air sering panas ketika kita jarang mengobok-obok air dalam wadah sistem wick.

 

Kelebihan dan kekurangan sistem NFT


Sistem NFT adalah sebuah sistem tanam hidrponik yang memakai pipa atau gully sebagai talang instalasi, dalam sistem NFT air mengalir menggunakan pompa dan alirannya sangat tipis sekali, tujuannya agar akar tanaman selain mendapatkan nutrisi dan air yang cukup juga mendapatkan suplai oksigen yang sangat baik.

Sistem NFT banyak dipilih oleh petani hidrponik berpengalaman skala besar karena hasilnya sangat optimal, namun begitu sistem NFT memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.

A. Kelebihan sistem NFT.
Berikut adalah kelebihan sistem hidroponik NFT

1. Tumbuh kembang tanaman lebih maksimal
Tumbuh kembang tanaman umumnya lebih maksimal, karena tanaman akan mendapatkan pasokan air, nutrisi dan oksigen yang sangat memadai.

2. Tidak terlalu banyak menghabiskan pupuk nutrisi.
Karena sistem NFT menggunakan aliran air yang sangat tipis, sehinngga kebutuhan larutan nutrisi bisa lebih di minimalisir namun kebutuhan nutrisi terserap sempurna sehingga tidak mempengaruhi tumbuh kembang tanaman.

3. Pemeliharan yang lebih mudah
Pemeliharaan NFT lebih mudah terutama ketika ingin mengontrol nilai Kandungan nutrisi, cukup dilakukan dibak penampungan, maka semua tanaman seragam akan mendapatkan distribusi nutrisi dengan nilai ppm yang merata.

4. Resiko pengendapan kotoran dalam guli sedikit
Kotoran di dalam talang atau pipa umumnya disebabkan oleh endapan nutrisi yang sudah terlalu lama digunakan tanpa dikuras, untuk NFT resiko endapan nitroso dalam pipa atau guly dapat diminimalisir karena aliran air mengalir secara terus menerus tanpa ada yang tergenang.

B. Kekurangan Sistem NFT Hidrponik

Sementara kekurangan atau kelemahan sistem NFT hidrponik adalah seabgai berikut:

1. Sangat tergantung dengan Listrik
Sistem NFT menggunakan pompa untuk mengalirkan air, jika listrik mati maka pompa akan ikut mati artinya tanaman tidak akan mendapatkan aliran nutrisi, sehingga jika dibiarkan dalam waktu yang lama tanaman bisa layu dan mati.

2. Penyebaran penyakit Cepat
Jika satu tanaman terkena hama seperti hama yang menyerang akar, akan mudah sekali menyebar ke tanaman yang lain. untuk menghindarinya jika terdapat satu tanaman terkena hama yang menyerang akar terutama, lebih baik langsung buang.

4. Biaya Instalasi mahal
Biaya instalasi untuk sistem NFT terbilang cukup mahal, karena umumnya pipa instalasinya menggunakan Gully yang dasarnya rata dan harganya relatif mahal serta susah untuk didapat.

5. Tanaman bisa mati jika pompa mati.
Karena dalam sistem NFT tidak terdapat air yang tergenang, hanya aliran air saja, ini menjadi salah satu kelemahannya sistem NFT sangat tergantung pada pompa, jika pompa mati otomatis tanaman tidak akan mendapatkan aliran air, jika dibiarkan tanaman bisa layu dan mati.

3. Kelebihan dan kekurangan sistem DFT

kelebihan dan kekurangan sistem dft hidroponik
Satu lagi sistem yang instalasinya memakai pipa adalah sistem DFT (Deep Flow Technique), sama halnya dengan sistem NFT, namun di dalam sistem DFT dibuat ada air nutrisi yang sebagian tergenang di dalam pipa walaupun air sama-sama mengalir.

Seperti halnya sistem yang lain, sistem DFT juga selain memiliki kelebihan juga memiliki kelemahan, berikut adalah kelebihan dan kelemahan sistem DFT yang harus anda ketahui.

A. Kelebihan Sistem DFT

Berikut adalah beberapa kelebihan sistem DFT antara lain:

a. Masih aman walaupun pompa mati.
Pada sistem DFT karena ada air yang tergenang sebagian di pipa instalasi, ini menjadi salah satu kelebihannya, apabila pompa mati tanaman tetap mendapatkan asupan nutrisi dari air nutrisi yang tergenang.

b. Pertumbuhan tanaman lebih optimal
Karena air yang mengalir mengandung oksigen sehingga tanaman selain mendapatkan air dan nutrisi juga mendapatkan oksigen yang cukup.

c.Panen lebih seragam
pada sistem DFT panen akan lebih seragam karena setiap tanaman mendapatkan nutrisi yang sama, kecuali jika kwalitas benihnya jelek.

c. Pemeliharaan yang mudah.
Pemelihraan DFT sangat mudah, terutama yang berkaitan dengan kontrol nutrisi, cukup mengontrol air nutrisi dalam penampung sudah cukup.

d. Umur panen lebih cepat
Tanaman yang ditanam dengan sistem DFT umumnya pertumbuhannya lebih cepat sehingga lebih cepat panen.

B. Kekurangan Sistem DFT

Berikut adalah kekurangan sistem DFT

a. Pipa kotor
Ada saatnya seiring lamanya digunakan, pipa yang digunakan akan kotor dan perlu dikuras serta dibersihkan, baik kotor karena endapan nutrisi yang sudah sangat lama, atau karena lumut.

b. Cukup repot dalam mengatur Kadar PPM air nutrisi pada saat isi ulang.
Kadang target PPM yang diinginkan meleset itu disebabkan ada air yang masih tergenang di pipa sehingga ketika bercampur di tandon ppm menjadi berubah tidak sesuai dengan nilai ppm yang ditargetkan alhasil harus dikira-kira lagi hingga keseluruhan ppm baik air ditandon maupun yang tergenang di pipa menjadi Sama.

c.Lebih banyak membutuhkan air dan nutrisi.
Karena pada sistem hidroponik DFT ada air yang tergenang di pipa dan juga di tandon, kebutuhan air menjadi lebih banyak, sehingga kebutuhan nutrisipun semakin banyak sesuai dengan kapasitas air.

d. Hama cepat menyebar
Hama yang menyerang akar pada sistem DFT akan cepat menyebar dikarenakan aliran air yang sama, oleh karena itu jika ada satu tanaman hidroponik pada sistem dft terkena hama yang menyerang akar harus segera dibuang.


Kekurangan dan Kelebihan sistem hidroponik Rakit Apung

kelebihan dan kekurangan hidroponik sistem rakit apung

Sistem rakit apung adalah sistem hidroponik yang memanfaatkan genangan air yang ditutup styrofoam yang diletakan mengapung diatas permukaan air,sistem hidroponik rakit apung sangat banyak digunakan karena kepraktisannya.

Kelebihan shidroponik sistem rakit apung.

Berikut adalah beberapa kelebihan dari sistem hidroponik rakit apung:

a. Pemeliharaan yang sangat mudah
Pemeliharaan hidroponik sistem rakit apung terbilang sangat mudah

b. Tanaman dapat tumbuh merata
Tanaman hidroponik yang ditanam dalam sistem rakit apung mampu tumbuh merata karena mendapatkan nutrisi dari sumber yang sama untuk setiap tanaman.

c. Bak dapat digunakan lebih dari satu kali tanam.
Selema air nutrisi dalam bak rakit apung masih bersih, air masih terus bisa digunakan untuk musim tanam berikutnya tidak perlu diganti, cukup ditambah.


Kekurangan rakit apaung.

 Sementara kekurangan dari sistem rakit apung adalah sebagai berikut:

a. Biaya instalasi mahal.
Sistem Rakit apung terbaru umumnya menggunakan minimal 2 pompa yang diletakan secara berhadapan di pojok bawah kiri dan pojok atas kanan. dengan tujuan agar air tersirkulasi dengan baik dan agar air cukup mengandung oksigen untuk akar, tentunya jumlah pompa menyesuaikan dengan panjangnya bak penampungan semakin luas maka pompa yang digunakan bisa lebih dari 2 dan secara otomatis memerlukan modal yang lebih besar lagi.

b. Memerlukan air yang banyak.
Tinggi air pada bak penampungan rakit apung minimal 15 centimeter hingga 20 cm, semakin luas bak penampungan maka kebutuhan air akan semakin banyak.

c. Penyakit cepat menyebar
Jika satu tanaman dalam sistem rakit apung terserang hama, misal busuk akar yang disebabkan oleh bakteri atau jamur, maka jika dibiarkan penyebarannya akan cepat, untuk mengatasinya jika sudah terlalu parah, seluruh air nutirsi dalam bak harus diganti dengan yang baru.

Budidaya sayuran hidrponik yang paling banyak dipilih adalah menanam kangkung, jenis sayuran ini selain mudah dibudidayakan  juga banyak sekali peminatnya, hingga disebut sebagai sayuran sejuta umat. tidak ayal sayuran ini sering dijadikan sayuran budidaya hidroponik untuk skala bisnis.

Ada banyak sistem hidrponik yang bisa kita pilih pada saat ingin menanam kangkung secara hidrponik,  namun jika anda masih pemula, lebih baik memilih sistem wick atau sistem kratky. karena kedua sistem hidroponik tersebut bisa menggunakan barang-barang bekas yang banyak tersedia di sekitar rumah, seperti botol bekas air mineral, dirigen bekas oli, wadah-wadah bekas yang bisa menampung air dan lain sebagainya

Dengan sistem wick menanam kangkung secara hidrponik tidak akan mengeluarkan biaya terlalu besar, selain itu melalui sistem wick anda akan banyak belajar bagaimana cara menanam, menganalisa permasalahan dan menemukan solusi setiap permasalahan yang berkaitan dengan tumbuh kembang tanaman hidrponik anda, sehingga seiring waktu dengan tersedianya modal yang cukup anda bisa beralih memilih sistem hidrponik yang lebih praktis dan menguntungkan.

Di artikel kali ini saya ingin menyajikan materi bagaimana cara menanam kangkung hidrponik untuk pemula, semoga artikel ini bermanfaat untuk anda yang tertarik dengan hidroponik namun masih bingung cara menanam hidroponik terutama hidrponik kangkung.

Cara menanam hidroponik kangkung di rumah untuk pemula 

Budidaya hidrponik kangkung itu sangat mudah, karena kangkung mudah tumbuh, pemeliharannya yang tidak terlalu rumit serta masa panen yang sangat singkat 18-23 hari, jika pertumbuhan kangkung baik 18-23 hari sudah bisa dipanen, bahkan jika panen pertama dengan cara dipetik, maka bisa panen berkali-kali setiap 15 hari berikutnya.

Namun sebelum anda memulai untuk menanam kangkung secara hidrponik ada beberapa hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu diantaranya sebagai berikut:

1. Sistem Hidrponik yang anda ingin gunakan

Pertama yang harus anda pikirkan sebelum menanam kangkung secara hidrponik adalah mempertimbangkan sistem hidrponik yang ingin digunakan.

Saat ini ada banyak sekali sistem hidroponik, diantaranya sistem dft, nft, rakit apung, kratky, wick dan lain sebagainya. namun untuk pemula yang masih belajar dan tidak ingin keluar modal besar, saya menyarankan untuk memilih sistem wick atau kratky, karena kedua sistem tersebut sangat mudah dan terjangkau serta bisa memanfaatkan barang-barang/wadah bekas di rumah.

a. Sistem Wick (sistem sumbu)  lebih mudah dan murah
Berikut adalah skema sistem wick hidrponik yang bisa anda gunakan untuk menanam hidrponik kangkung di rumah.

Peralatan instalasi sistem wick

a. Wadah (apapun yang penting bisa menampung air), bisa menggunakan botol bekas, pipa bekas, nampan, baskom dll
b. papan penutup, bisa dari styrofoam, plastik gelap, kayu dan lain sebagainya, papan dobolongi sesuai dengan besarnya diameter netpot atau pot tanam.
c. Netpot, pot tanam bisa dibuat dari gelas plastik air mineral aqua gelas, plastik bekas wadah eskrim dan lain sebagainya, netpot harus dilubangi agar akar bisa keluar. Dalam sistem wick netpot tidak menyentuh air, hanya kain planellah yang menyentuh air untuk menyerap nutrisi ke akar.
d. Kain planel untuk sumbu, kain yang digunakan untuk menyerap air nutrisi sampai ke akar tanaman, bisa menggunakan kain planel, atau kain apapun yang bisa menyerap air namun tidak mudah rusak apabila terendam.
e. Air nutrisi, air baku yang dicampur dengan pupuk nutrisi hidroponik salah satunya pupuk jenis ABMIX. pastikan air tidak menyentuh pot tanam.

f. Metan/media tanam, media untuk menopang tanaman, bisa menggunakan rockwool, pasir, sekam bakar, hidrogel, cocopeat dll tapi selain tanah.


Sistem wick menggunakan Botol Bekas.
Sistem wick juga bisa menggunakan botol bekas seperti gambar di bawah ini, silahkan gunakan botol-botol bekas air mineral dan botol lainnya.


b. Sistem kratky juga bisa anda pilih
Sama seperti sistem wick namun tidak memakai sumbu, di awal masa tanam dasar pot tergenang, kemudian setelah akar tumbuh dasar netpot diangkat atau air nutrisi dikurangi beberapa senti, agar tidak menyentuh netpot sehingga sebagaian akar terendam dan bagian atasnya tidak untuk kebutuhan oksigen.

Berikut skema sistem kratky.
Silahkan anda berimpropisasi yang penting instalasinya seperti gambar-gambar di atas. gunakan barang-barang bekas yang tersedia di rumah anda namun pastikan tidak memakai barang bekas yang mengandung logam untuk wadah air nutrisi.

2. Media tanam yang ingin digunakan

Yang kedua yang harus anda persiapkan adalah media tanam (METAN), ada banyak sekali media tanam yang bisa digunakan,  bisa menggunakan rockwool, sekam bakar, tisu basah, hidrogel,cocopeat dll.  pilih saja media tanam yang terjangkau dengan modal dan banyak tersedia di lokasi anda.

3. Pupuk nitrisi.

Walaupun menggunakan air, namun air yang digunakan adalah campuran antara air baku (air tawar biasa) dengan nutrisi hidroponik.

Ada banyak sekali jenis nutrisi hidrponik, salah satu yang paling banyak digunakan adalah nutrisi ABMIX yang bisa anda beli di toko-toko hidrponik baik offline maupun online.

Anda harus mempelajari cara melarutkan nutrisi dalam air, karena ada aturannya dan tidak boleh sembarangan.

Untuk lebih memahaminya silahkan pelajari: Aturan pemberian nutrisi hidrponik

zat terlarut dalam air baku pada Larutan nutrisi diukur dengan satuan EC(Electrical Conductivity) atau PPM (parts per million), agar lebih mudah gunakan alat ukur TDS meter yang bisa dibeli ditoko hidrponik kurang dari 100rbuan.

4. Lokasi Tanam

Satu lagi yang harus diperhatikan ketika ingin memanam dengan sistem hidrponik adalah lokasi tanaman diletakan, tidak perlu lahan luas, lahan sempit seperti pekarangan rumah, teras loteng belakang rumah juga bisa, namun pastikan memilih lokasi tanam yang full terkena sinar matahari.setidaknya 6 jam area mendapatkan sinar matahari.

Sinar matahari merupakan salah satu unsur penting dalam mempengaruhi tumbuh kembang tanaman hidrponik yang kita tanam, sinar matahari digunakan oleh tanaman untuk berfotosintesis, jika suplai matahari mencukupi maka tanaman bisa berfotosintesis dengan baik.

Anda bisa menempatkan tanaman dibawah terik sinar matahari, jika menanam hidrponik yang anda lakukan skalanya cukup besar, pertimbangkan untuk memberikan atap dari plastik UV  atau menyediakan Green Hause, agar larutan nutrisi tidak terkontaminasi air hujan untuk meminimalisir datangnya hama tanaman.

Langkah Cara Menanam Hidrponik Kangkung

 Masa semai dihitung dari mulai hari pertama semai disebut HSS (Hari setelah semai)

a. Semai benih kangkung

Untuk menanam kangkung sebelum dipindahkan ke media tanam hidrponik, biasanya harus dimulai dari penyemaian benih terlebih dahulu menggunakan baki atau wadah untuk menyemai.

Untuk menyemai benih anda bisa merendam benih kangkung di air hangat kuku setidaknya 1 jam, kemudian pilih benih yang terendam sempurna, buang yang mengapung.

Benih yang sudah terendam lalu di masukan kedalam media tanam, rockwool yang dibasahi dengan air tawar biasa atau sekam bakar yang dibasahi air tawar biasa.

Contoh semai kangkung menggunakan rockwool
rokcwool dipotong-potong 4-5 cm, dibasahi dengna air biasa, kemudian benih kangkung dimasukan di setiap kotak 5 sampai 9 biji., 
Hari pertama simpan ditempat gelap, lalu setelah biji pecah langsung jemur secara rutin hingga sebuah benih tumbuh daun. pindahkan ke media tanam hidrponik setelah bertangkai 3 atau 4, umumnya 7 sampai 10 hss.


Contoh semai kangkung menggunakan sekam bakar
 Rutin semprot sekam agar selalu lembab, hari pertama simpan ditempat gelap hingga tumbuh tunas, setelah tunas keluar langsung di jemur secara rutin.


Pindahkan ke media tanam setelah setiap benih bertangkai 3-4.

B. Pindahkan benih ke media tanam

Contoh media tanam sistem wick dari botol bekas

 

Jika benih kangkung sudah bertangkai 3 atau 4, itu artinya sudah saatnya dipindahkan ke media tanam hidrponik.

Siapkan media tanam hidrponik sesuai dengan yang telah dijelaskan di atas, kemudian pindahkan benih pada pot tanam yang sudah disediakan.





Maksimal nilai PPM untuk larutan air nutrisi hidrponik tanaman kangkung adalah 1400. berikan nutrisi dari mulai nilai PPM kecil hingga maksimal ketika menjelang panen.

Minggu pertama bisa dikasi 400ppm hingga 600ppm, minggu seterusnya 700-900 ppm, minggu ke 3 1000-1400ppm. tingkatkan secara bertahap hingga panen.

Panen kangkung hidrponik bisa langsung dengan akarnya atau bisa dipetik, jika ingin cepat tumbuh anda bisa memanennya dengan cara dipetik, selanjutnya setelah 15 hari berikutnya anda bisa panen lagi.